Kisah – Kisah Sufi

K I S A H – K I S A H  S U F I
Kumpulan kisah nasehat para guru sufi
selama seribu tahun yang lampau
oleh Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono)
Penerbit: Pustaka Firdaus, 1984
Materi e-Book ini sepenuhnya adalah saduran dari kompilasi
Kisah-Kisah Sufi oleh Idries Shah di MediaIsnet Homepage.
Kisah-kisah Sufi
oleh Idries Shah
AHLI BAHASA DAN DARWIS
Pada suatu malam kelam seorang darwis berjalan melewati
sebuah sumur kering ketika ia mendengar jerit minta tolong
dari dasar sumur itu. “Ada apa?”
“Saya seorang ahli tata bahasa; karena tak tahu jalan, saya
terperosok ke sumur ini; sekarang saya tidak bisa bergerak
sama sekali,” jawab orang itu.
“Tenang, bung, biar saya cari tangga bersama tali,” kata
darwis itu.
“Tunggu dulu!” kata Si Ahli Tatabahasa. “Tatabahasa dan
pilihan katamu keliru; usahakan memperbaikinya.”
“Kalau hal itu memang lebih penting dari yang pokok ini,”
teriak darwis itu, “kau sebaiknya tinggal saja di dasar
sumur itu sampai saya bisa benar-benar berbahasa bagus.”
Dan ia pun berlalu.
Catatan
Kisah ini diceritakan oleh Jalaludin Rumi dan dicatat dalam
Tindakan Para Mahir karya Aflaki. Kisah ini pernah
diterbitkan di Inggris tahun 1965 dengan judul Dongeng Para
Sufi; kisah tentang Mevlevis dan tindakan-tindakannya ini
ditulis pada abad ke empat belas.
Beberapa kisahnya sekedar berupa cerita aneh, namun yang
lain mempunyai nilai sejarah: dan beberapa lagi merupakan
jenis aneh yang oleh para Sufi dikenal sebagai “sejarah
penjelasan,” yakni serangkaian kejadian disusun untuk
menunjukkan makna yang berkaitan dengan proses psikologis.
Berdasarkan hal itu, kisah-kisah itu disebut “Keterampilan
Ilmuwan Darwis.”
———————————————————————————————-
AIR SORGA
Haris seorang Badawi, dan istrinya Nafisa hidup
berpindah-pindah tempat membawa tendanya yang tua. Dicarinya
tempat-tempat yang ditumbuhi beberapa kurma, rumputan untuk
untanya, atau yang mengandung sumber air betapapun kotornya.
Kehidupan semacam itu telah dijalani bertahun-tahun lamanya,
dan Haris jarang sekali melakukan sesuatu di luar
kebiasaannya. Ia biasa menjerat tikus untuk diambil
kulitnya, dan memintal tali dari serat pohon kurma untuk di
jual kepada kafilah yang lewat.
Namun, pada suatu hari sebuah sumber air muncul di padang
pasir, dan Haris pun mencicipi air itu. Baginya air itu
terasa bagaikan air sorga, sebab jauh lebih bersih dari air
yang biasa diminumnya. Bagi kita, air itu akan terasa
memuakkan karena sangat asin. “Air ini,” katanya, “harus aku
bawa keseseorang yang bisa menghargainya.”
Karena itulah ia berangkat ke Bagdad, ke Istana Harun
al-Rasyid; ia pun berjalan tanpa berhenti kecuali kalau
makan beberapa butir kurma. Haris membawa dua kantong kulit
kambing penuh berisi air: satu untuk dirinya sendiri, yang
lain untuk Sang Kalifah.
Beberapa hari kemudian, ia mencapai Bagdad, dan langsung
menuju istana. Para penjaga istana mendengarkan kisahnya dan
hanya karena begitulah aturan di istana mereka membawa Haris
ke hadapan Raja.
“Pemimpin Kaum yang Setia,” kata Haris, “Hamba seorang
Badawi miskin, dan mengetahui segala macam air di padang
pasir, meskipun mungkin hanya mengetahui sedikit tentang
hal-hal lain. Hamba baru saja menemukan Air Sorga ini, dan
menyadari bahwa ini merupakan hadiah yang sesuai untuk Tuan,
hamba pun segera membawanya kemari sebagai persembahan.”
Harun Sang Terus terang mencicipi air itu dan, karena ia
sepenuhnya memahami rakyatnya, diperintahkannya para penjaga
membawa pergi Haris dan mengurungnya di suatu tempat sampai
ia mengambil keputusan. Kemudian dipanggilnya kepala
penjaga, katanya, “Apa yang bagi kita sama sekali tak
berguna, baginya berarti segala-galanya. Oleh karena itu
bawalah ia pergi dari istana pada malam hari. Jangan sampai
ia melihat Sungai Tigris yang perkasa itu. Kawal orang itu
sepanjang perjalanan menuju tendanya tanpa memberinya
kesempatan mencicipi air segar. Kemudian berilah ia seribu
mata uang emas dan terima kasihku untuk persembahannya itu.
Katakan bahwa ia adalah penjaga air sorga, dan bahwa atas
namaku ia boleh membagikan air itu kepada kafilah yang lalu,
tanpa pungutan apapun.
Catatan
Kisah ini juga dikenal sebagai “Kisah tentang Dua Dunia.”
Kisah ini disampaikan oleh Abu al-Atahiya dan suku Aniza
(sezaman dengan Harun al-Rasyid dan pendiri Darwis Mashkara
(‘Suka Ria’) yang namanya di abadikan dalam istilah Mascara
dalam bahasa-bahasa Barat. Pengikutnya tersebar sampai
Spanyol, Perancis. dan negen-negeri lain.
Al-Atahiya disebut sebagai “Bapak puisi suci Sastra Arab.”
Ia meninggal tahun 828.
——————————————————————————————-
ANJING DAN KELEDAI
Seorang yang baru saja menemukan cara memahami arti
suara-suara yang dikeluarkan binatang, pada suatu berjalan
sepanjang lorong di desa.
Dilihatnya seekor keledai, yang baru saja meringkik dan di
sampingnya ada seekor anjing, menyalak-nyalak sekeras-kerasnya.
Ketika orang itu semakin dekat, arti pertukaran suara
binatang itu bisa ditangkapnya.
“Uh, bosan! Kau ngomong saja tentang rumput dan padang
rumput yang kering bisa dipergunakan sebagai pengganti
daging,” katanya menyela.
Kedua binatang itu memandangnya sejenak. Anjing menyalak
keras-keras sehingga suara orang itu tak terdengar sama
sekali; dan keledai menyepak dengan kaki belakangnya tepat
mengenai orang itu sampai kelenger.
Kemudian kedua binatang kembali adu mulut.
Catatan
Kisah ini, yang menyerupai kisah Rumi, adalah fabel dalam
kumpulan kisah Majnun Qalandar, yang mengembara selama empat
puluh tahun pada abad ketiga belas, membacakan kisah nasehat
di pasar-pasar. Beberapa orang mengatakan bahwa ia
benar-benar gila (seperti yang ditunjukkan oleh namanya);
orang-orang lain beranggapan bahwa ia merupakan salah
seorang di antara “Orang-orang yang berubah”– yang telah
mengembangkan pengertian adanya hubungan antara benda-benda,
yang oleh orang-orang biasa dianggap terpisah.
ANJING, TONGKAT DAN SUFI
Pada suatu hari seorang yang berpakaian sebagai Sufi
berjalan-jalan; ia melihat seekor anjing di jalan; ia pun
memukulnya dengan tongkat. Si Anjing, sambil melolong
kesakitan, berlari menuju Abu Said, Sang Ulama. Anjing
itupun menjatuhkan dirinya dekat kaki Sang Ulama sambil
memegang moncongnya yang terluka; ia mohon keadilan karena
telah diperlakukan secara kejam oleh sufi itu.
Abu Said mempertemukan keduanya. Kepada Sufi dikatakannya,
“O Saudara yang seenaknya, kenapa kau perlakukan binatang
dungu ini sekasar itu! Lihat akibatperbuatanmu!”
Sang Sufi menjawab,”itu sama sekali bukan salahku, tapi
salahnya Saya tidak memukulnya tanpa alasan, saya memukulnya
karena ia mengotori jubahku.”
Tetapi Si Anjing tetap menyampaikan keluhannya.
Kemudian Sang Bijaksana berbicara kepada Anjing, “Dari pada
menunggu Ganti Rugi Akhirat, baiklah saya berikan ganti rugi
bagi rasa sakitmu itu.”
Si Anjing berkata, “Sang Agung dan Bijaksana! Ketika saya
melihat orang ini berpakaian sebagai Sufi, saya berfikir
bahwa ia tak akan menyakiti saya. Seandainya saya melihat
orang yang berpakaian biasa saja, tentunya akan saya berikan
keleluasaan padanya untuk lewat. Kesalahan utama saya adalah
menganggap bahwa pakaian orang suci itu menandakan
keselamatan. Apabila Tuan ingin menghukumnya, rampaslah
pakaian Sufinya itu. Campakkan dia dari pakaian Kaum
Terpilih Pencari Kebenaran …”
Anjing itu sendiri berada suatu Tahap dalam Jalan. Sangat
keliru kalau kita beranggapan bahwa manusia harus lebih baik
darinya.
Catatan
“Penciptaan keadaan” yang disini ditampilkan oleh jubah Sufi
sering disalahtafsirkan oleh kaum kebatinan dan keagamaan
apa saja sebagai sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman
dari kegunaan nyata.
Kisah ini, dari buku Attar Ilahi-Nama, sering diulang-ulang
oleh para Sufi “Jalan Salah,” dan dianggap ciptaan Hamdun Si
Pemutih Kain, pada abad kesembilan.
——————————————————————————————–
BATAS DOGMA
Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung berada dijalan di
Ghazna, ibu kota negerinya. Dilihatnya seorang kuli
mengangkut beban berat, yakni sebungkah batu yang didukung
di punggungnya. Karena rasa kasihan terhadap kuli itu,
Mahmud tidak bisa menahan perasaannya, katanya memerintah:
“Jatuhkan batu itu, kuli.”
Perintah itupun langsung dilaksanakan. Batu tersebut berada
di tengah jalan, merupakan gangguan bagi siapapun yang ingin
lewat, bertahun-tahun lamanya. Akhirnya sejumlah warga
memohon raja agar memerintahkan orang memindahkan batu itu.
Namun Mahmud, menyadari akan kebijaksanaan administratif,
terpaksa menjawab.
“Hal yang sudah dilaksanakan berdasarkan perintah, tidak
bisa dibatalkan oleh perintah yang sama derajatnya. Sebab
kalau demikian, rakyat akan beranggapan bahwa perintah raja
hanya berdasarkan kehendak sesaat saja. Jadi, biar saja batu
itu disitu.”
Oleh karenanya batu tersebut tetap berada di tengah jalan
itu selama masa pemerintahan Mahmud. Bahkan ketika ia
meninggal batu itu tidak dipindahkan, karena orang-orang
masih menghormati perintah raja.
Kisah itu sangat terkenal. Orang-orang mengambil maknanya
berdasarkan salah satu dari tiga tafsiran, masing-masing
sesuai dengan kemampuannya.
Mereka yang menentang kepenguasaan beranggapan bahwa kisah
itu merupakan bukti ketololan penguasa yang berusaha
mempertahankan kekuasaannya.
Mereka yang menghormati kekuasaan merasa hormat terhadap
perintah, betapapun tidak menyenangkannya.
Mereka yang bisa menangkap maksudnya yang benar, bisa
memahami nasehat yang tersirat. Dengan menyuruh menjatuhkan
batu di tempat yang tidak semestinya sehingga merupakan
gangguan, dan kemudian membiarkannya berada disana, Mahmud
mengajar kita agar mematuhi penguasa duniawi -dan sekaligus
menyadarkan kita bahwa siapapun yang memerintah berdasarkan
dogma kaku, tidak akan sepenuhnya berguna bagi kemanusiaan.
Mereka yang menangkap makna ini akan mencapai taraf pencari
kebenaran, dan akan bisa menambah jalan menuju Kebenaran.
Catatan
Kisah ini muncul dalam karya klasik yang terkenal,
Akhlaq-i-Mohsini ‘Akhlak Dermawan,’ ciptaan Hasan Waiz
Kashifi; hanya saja tanpa tafsir seperti yang ada dalam
versi ini.
Versi ini merupakan bagian ajaran syeh Sufi Daud dari
Qandahar, yang meninggal tahun 1965. Kisah ini merupakan
pengungkapan yang bagus tentang pelbagai taraf pemahaman
terhadap tindakan; masing-masing orang akan menilainya
berdasarkan pendidikannya. Metode penggambaran tak langsung
yang dipergunakan Sultan Mahmud itu dianut pada Sufi, dan
bisa diringkaskan dalam ungkapan, “Bicaralah kepada dinding,
agar pintu bisa mendengar.”
——————————————————————————————–
BAYAZID DAN ORANG YANG MEMIKIRKAN DIRI SENDIRI
Pada suatu hari, seseorang mengomel kepada Bayazid, seorang
ahli mistik pada abad kesembilan, mengatakan bahwa ia telah
berpuasa dan berdoa dan berbuat segalanya selama tiga puluh
tahun namun tidak juga menemukan kesenangan seperti yang
digambarkan Bayazid. Bayazid menjawab, orang itu bisa saja
melanjutkan perbuatannya tiga ratus tahun lagi tanpa
mendapatkan kesenangan juga.
“Mengapa begitu?” tanya Si Sok-Saleh.
“Sebab kesombonganmu merupakan halangan utama bagimu.”
“Coba katakan apa obatnya.”
“Obatnya tak akan bisa kau laksanakan.”
“Bagaimanapun, katakan sajalah.”
Bayazid pun berkata, “Kau harus pergi ke tukang pangkas
rambut untuk mencukur janggutmu, (yang terhormat, itu).
Lepaskan semua pakaianmu dan kenakan korset. Isi sebuah
kantong kuda dengan kenari sampai penuh, lalu gantungkan di
lehermu. Pergilah ke pasar dan berteriaklah, ‘akan kuberikan
sebutir kenari kepada setiap anak yang memukul tengkukku.’
Kemudian lanjutkan perjalananmu ke sidang pengadilan agar
semua orang menyaksikanmu.”
“Tetapi aku tak bisa melakukan itu; coba katakan cara lain
yang sama manfaatnya.”
“Itu langkah pertama, dan satu-satunya cara,” kata Bayazid,
“Tetapi sudah aku katakan kepadamu bahwa kau tak akan bisa
melakukannya; jadi tak ada obat bagimu.”
Catatan
Al-Ghazali, dalam Alkemia Kebahagiaan, mempergunakan ibarat
ini untuk menekankan pernyataan yang sering diulang-ulangnya
bahwa sementara orang, betapapun jujur tampaknya usaha
mencari kebenaran itu bagi dirinya sendiri -dan bahkan
mungkin juga bagi orang lain- nyatanya kadang-kadang didasari
kesombongan atau mencari untung sendiri, hal-hal yang
merupakan halangan utama bagi pencarian kebenarannya.
——————————————————————————————–
BURUNG DAN TELUR
Zaman dahulu ada seekor burung yang tidak mempunyai tenaga
untuk terbang. Seperti ayam, ia berjalan-jalan saja di
tanah, meskipun ia tahu bahwa ada burung yang bisa terbang.
Karena berbagai keadaan, ada telur seekor burung yang bisa
dierami oleh burung yang tak bisa terbang itu.
Setelah sampai waktunya, telur itu pun menetas.
Burung kecil itu masih memiliki kemampuan untuk terbang yang
diwarisi dari ibunya, yang tersimpan dalam dirinya sejak ia
masih berada dalam telur.
Ia pun berkata kepada orang tua angkatnya, “Kapan aku akan
terbang?” Dan burung yang hanya bisa berjalan di tanah itu
menjawab, “Cobalah terus menerus belajar terbang, seperti
yang lain.”
Yang tua itupun tidak tahu bagaimana mengajarkan cara
terbang kepada anak angkatnya: ia bahkan tidak tahu
bagaimana menjatuhkannya dari sarang agar bisa belajar
terbang.
Dan aneh bahwa burung kecil itu tidak mengetahui hal
tersebut. Pemahamannya terhadap keadaan terkacau oleh
kenyataan bahwa ia merasa berterima kasih kepada burung yang
telah mengeraminya.
“Tanpa jasa itu,” katanya kepada diri sendiri, “tentu aku
masih berada dalam telur.”
Dan ia juga kadang-kadang berkata kepada dirinya sendiri,
“Siapa pun bisa mengeramiku, tentu bisa juga mengajarku
terbang. Tentunya hanya soal waktu saja, atau karena usahaku
yang tanpa bantuan, atau karena suatu kebijaksanaan agung:
ya, ini jawabnya. Tiba-tiba suatu hari aku akan terbawa ke
tahap berikutnya oleh-nya yang telah membawaku sejauh ini.”
Catatan
Kisah ini terdapat dalam berbagai bentuk dalam versi-versi
yang berbeda dari karya Suhrawardi, Awarif al-Maarõf, dan
mengandung pelbagai pesan. Konon, kisah ini bisa ditafsirkan
secara intuitif sesuai dengan tahap kesadaran yang telah
dicapai oleh orang yang belajar ilmu Sufi. Yang jelas saja
kisah ini mengandung nasehat-nasehat, beberapa diantaranya
menekankan dasar dasar utama peradaban modern, antara lain:
“Konyollah apabila kita beranggapan bahwa suatu hal
mengikuti sesuatu yang lain; anggapan itu juga menghalangi
kemajuan selanjutnya,” dan “Bahwa sesuatu bisa melakukan
fungsi tertentu tidaklah berarti bahwa juga ia bisa
melakukan lungsi yang lain.”
——————————————————————————————–
BURUNG INDIA
Seorang saudagar memelihara burung dalam sangkar. Ia akan
berangkat ke India, tanah asal burung itu, dan menanyakan
barangkali binatang itu meminta oleh-oleh dari sana. Burung
itu meminta kebebasannya, tetapi ditolak. Karena itu ia
minta saudagar itu pergi ke hutan di India, lalu mengabarkan
tentang keadaannya yang dalam kurungan kepada burung-burung
lain yang masih bebas.
Saudagar itu pun melaksanakan pesan tersebut, dan begitu ia
mengucapkan kata-katanya, seekor burung serupa dengan burung
piaraannya jatuh dari sebuah pohon, tak sadarkan diri di
tanah.
Si Saudagar berpendapat bahwa itu tentulah saudara burung
piaraannya, dan iapun merasa sedih telah menyebabkan
kematiannya.
Ketika ia pulang, burungnya bertanya apakah tuannya membawa
kabar gembira dari India.
“Tidak,” jawab saudagar itu, “kabar buruklah yang aku bawa.
Salah seekor saudaramu tak sadar diri dan jatuh dekat kakiku
ketika kusiarkan kabar tentang keadaanmu.”
Segera setelah kata-kata itu diucapkan, burung yang dalam
sangkar itu pun tak sadarkan diri dan jatuh ke dasar
sangkar.
“Kabar kematian saudaranya menyebabkannya mati juga,” pikir
saudagar itu. Dengan sedih diambilnya burung itu dari
sangkarnya, lalu diletakkannya di ambang jendela. Segera
saja burung itu hidup kembali, terbang ke pohon terdekat.
“Kini kau tahu,” kata Si Burung, “bahwa yang kau kira kabar
buruk itu, ternyata merupakan kabar baik bagiku. Dan pesan,
yakni cara untuk membebaskan diriku, ternyata telah
disampaikan kepadaku lewat kamu, yang dulu menangkapku.” Dan
burung itupun terbang, bebas merdeka akhirnya.
Catatan
Fabel Rumi ini merupakan salah satu yang menekankan
pentingnya pengajaran tak langsung dalam Sufisme .
Peniru dan sistem yang diatur sesuai dengan pemikiran
konvensional, baik di Barat maupun di Timur, umumnya memilih
penekanan pada “sistem” dan “program,” dan bukan pada
totalitas pengalaman yang dijalankan dalam mazhab Sufi.
——————————————————————————————–
CARA MENANGKAP KERA
Konon, ada seekor kera yang sangat suka makan buah ceri.
Pada suatu hari ia melihat ceri yang menerbitkan liur. Iapun
turun dari pohon untuk memetiknya. Tetapi ternyata buah itu
berada dalam sebuah botol gelas yang sangat bening. Setelah
beberapa kali dicoba, kera itu mengetahui bahwa ia bisa
memasukkan tangannya, ia mengepalkannya untuk memegang buah
ceri itu. Namun, kemudian disadarinya bahwa tangannya yang
terkepal itu tidak bisa ditariknya ke luar karena ternyata
lebih besar dari leher botol.
Itu semua memang disengaja; buah ceri tersebut dipasang oleh
seorang pemburu kera yang mengetahui cara berpikir kera.
Si Pemburu mendengar rengekan kera, datang mendekat dan
kerapun berusaha melarikan diri. Tetapi karena, menurut
pikiran kera, tangannya lekat ke botol iapun tidak bisa lari
kencang.
Namun, begitu pikirnya, ia masih menggenggam buah ceri itu.
Si Pemburupun menangkapnya. Sesaat kemudian siku kera itupun
dipukulnya sehingga genggamannya mengendor.
Kera itu bebas dari botol, tetapi ia tertangkap. Si Pemburu
telah mempergunakan ceri dan botol. dan kini kedua benda
itupun masih menjadi miliknya.
Catatan
Kisah ini adalah salah satu kisah-kisah dalam kumpulan yang
disebut Buku Amu Daria
Sungai Amu atau Jihun di Asia Tengah dikenal dalam peta
modern sebagai Oxus. Bagi mereka yang berfiikiran harafiah,
agak membingungkan bahwa kata itu merupakan istilah untuk
bahan-bahan tertentu seperti kisah ini, dan juga untuk
kelompok tanpa nama guru-guru keliling yang pusat
kegiatannya di dekat Aubshaur, di pegunungan Hindukush,
Afganistan.
Versi ini diceritakan oleh Khwaja Ali Ramitani, yang
meninggal tahun 1306.
——————————————————————————————–
DARWIS DAN PUTRI RAJA
Konon, ada seorang putri raja yang keelokannya bagaikan
rembulan; semua orang mengaguminya.
Pada suatu hari, seorang darwis yang sedang akan memasukkan
makanan ke mulutnya, melihat putri tersebut. Makanan itu
jatuh ke tanah, sebab ia begitu terpesona sehingga tidak
bisa menggenggam semestinya.
Ketika darwis itu berlalu, Sang Putri tersenyum kepadanya.
Tindakan putri itu sungguh-sungguh menyebabkannya sawan,
makanannya di tanah, pikirannya lenyap separo. Dalam keadaan
mabuk kepayang semacam itu, ia tidak berbuat apapun selama
tujuh tahun. Darwis tersebut selama itu tidur di jalan,
tempat anjing-anjing tidur.
Ia menjadi gangguan bagi Sang Putri, dan para pengawalnya
memutuskan akan membunuh lelaki itu.
Tetapi Sang Putri memanggilnya, katanya, “Tak mungkin kita
berdua hidup bersama. Dan budak-budakku akan membunuhmu;
oleh karena itu menghilanglah saja,”
Lelaki yang merana itu menjawab, “Sejak kulihat Tuan, hidup
ini tak ada artinya. Mereka akan membunuhku tanpa alasan.
Namun, jawablah pertanyaanku yang satu ini, karena Tuanlah
yang akan menjadi penyebab kematianku. Mengapa pula dulu
Tuan tersenyum padaku?”
“Tolol!” kata Sang Putri. “Ketika kulihat betapa tololnya
kau waktu itu, aku tersenyum kasihan, bukan karena apa-apa.”
Dan Putri pun pergi meninggalkannya.
Catatan
Dalam Parlemen Burung, Attar membicarakan kesalahpahaman
emosi subyektif yang menyebabkan orang percaya bahwa
pengalaman tertentu (“senyum Sang Putri”) meruapakan hadiah
istimewa (“kekaguman”), padahal sebenarnya merupakan hal
yang sebaliknya (“kasihan”).
Banyak orang yang salah menafsirkan, sebab karya semacam ini
memiliki konvensinya sendiri. Salah tafsir itu beranggapan
bahwa karangan klasik Sufi adalah cara lain dari
penggambaran teknis tentang keadaan kejiwaan.
——————————————————————————————–
DI JALAN TEMPAT PEDAGANG WANGI-WANGIAN
Seorang pengais sampah, yang sedang berjalan-jalan di tempat
orang berjualan wangi-wangian, tiba-tiba terjatuh
seakan-akan mati. Orang-orang berusaha menghidupkannya
kembali dengan bau-bauan wangi, namun keadaannya malah
semakin parah.
Akhirnya seorang bekas pengorek sampah datang; ia mengetahui
keadaan itu. Ia mendekatkan sesuatu yang berbau busuk di
hidung orang itu, yang segera saja segar kembali, teriaknya,
“Nah, ini dia wangi-wangian!”
Kamu harus mempersiapkan dirimu bagi keadaan peralihan,
disana tidak ada apa pun yang sudah biasa kaukenal. Setelah
mati, dirimu akan harus memberikan tanggapan terhadap
rangsangan yang di dunia ini masih bisa kaucoba rasakan.
Kalau kau tetap terikat pada beberapa hal yang kau kenal
akrab, kau hanya akan sengsara, seperti halnya si pengorek
sampah yang keadaannya menjadi gawat ditempat para penjual
wangi-wangian.
Catatan
Kisah perumpamaan ini jelas sekali maknanya. Ghazali
mempergunakannya dalam Alkemia Kebahagiaan pada abad
kesebelas untuk menggarisbawahi ajaran Sufi, bahwa hanya
beberapa saja diantara benda-benda yang kita kenal ini yang
memiliki pertalian dengan “dimensi lain.”
——————————————————————————————–
ISA DAN ORANG-ORANG BIMBANG
Diceritakan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang
lain-lain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalan
di padang pasir dekat Baitulmukadis bersama-sama sekelompok
orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.
Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada
mereka Kata Rahasia yang telah dipergunakannya untuk
menghidupkan orang mati. Isa berkata, “Kalau kukatakan itu
padamu, kau pasti menyalahgunakannya.”
Mereka berkata, “Kami sudah siap dan sesuai untuk
pengetahuan semacam itu; tambahan lagi, hal itu akan
menambah keyakinan kami.”
“Kalian tak memahami apa yang kalian minta,” katanya -tetapi
diberitahukannya juga Kata Rahasia itu.
Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu
tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang
yang sudah memutih. “Mari kita uji keampuhan Kata itu,” kata
mereka, Dan diucapkanlah Kata itu.
Begitu Kata diucapkan, tulang-tulang itupun segera
terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar
yang kelaparan, yang kemudian merobek-robek mereka sampai
menjadi serpih-serpih daging.
Mereka yang dianugerahi nalar akan mengerti. Mereka yang
nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini.
Catatan
Isa dalam kisah ini adalah Yesus, putra Maria. Kisah ini
mengandung gagasan yang sama dengan yang ada dalam Magang
Sihir, dan juga muncul dalam karya Rumi, di samping selalu
muncul dalam dongeng-dongeng lisan para darwis tentang
Yesus. Jumlah dongeng semacam itu banyak sekali.
Yang sering disebut-sebut sebagai tokoh yang suka
mengulang-ngulang kisah ini adalah salah seorang di antara
yang berhak menyandang sebutan Sufi, Jabir putra al-Hayan,
yang dalam bahasa Latin di sebut Geber, yang juga penemu
alkimia Kristen.
Ia meninggal sekitar 790. Aslinya ia orang Sabia, menurut
para pengarang Barat, ia membuat penemuan-penemuan kimia
penting.
——————————————————————————————–
JALAN GUNUNG
Pada suatu hari, seorang yang cerdas, ahli pengetahuan yang
pikirannya terlatih, datang ke sebuah desa. Sebagai latihan
dan telaah ilmunya, ia ingin membandingkan pandangan yang
berbeda-beda yang mungkin ada dalam desa itu.
Ia mendatangi sebuah warung dan menanyakan tentang seorang
yang paling jujur dan seorang yang paling bohong di desa
itu. Orang-orang di warung itu sepakat bahwa orang yang
bernama Kazzab adalah pembohong terbesar; dan Rastgu yang
paling jujur. Ahli pengetahuan itupun mendatangi kedua orang
tersebut bergantian, mengajukan pertanyaan sederhana yang
sama kepada keduanya, “jalan manakah yang terbaik menuju ke
desa tetangga?”
Rastgu yang jujur itu berkata, “Jalan gunung.”
Kazzab Si Pembohong juga berkata, “Jalan gunung.”
Tentu saja jawaban itu membingungkan Sang Pengembara cerdas
tersebut .
Demikianlah, iapun bertanya kepada orang-orang lain,
penduduk desa biasa.
Ada yang mengatakan, “Lewat sungai;” yang lain mengusulkan,
“Lewat padang saja”
Dan ada yang juga mengatakan, “Jalan gunung.”
Akhirnya diputuskannya mengambil jalan gunung. Tetapi dalam
kaitannya dengan tujuan semula tadi, masalah tentang orang
bohong dan orang jujur di desa itu mengganggu batinnya.
Ketika ia mencapai desa berikutnya, ia ceritakan kisahnya di
sebuah rumah penginapan; di akhir kisah dikatakannya. “Saya
jelas telah membuat kekeliruan logika yang mendasar dengan
menanyakan kepada orang-orang yang tidak tepat perihal Si
Jujur dan Si Bohong. Nyatanya saya telah sampai disini tanpa
kesulitan apapun, lewat jalan gunung.”
Seorang bijaksana yang kebetulan berada di situ berkata,
“Harus diakui bahwa para ahli logika cenderung tak terbuka
matanya, karenanya suka minta orang lain membantunya. Tetapi
masalah yang menyangkut hal ini justru sebaliknya.
Kenyataannya adalah sebagai berikut: Sungai sebenarnya
merupakan jalan termudah, oleh karenanya Si Pembohong
menunjukkan jalan gunung. Tetapi orang yang jujur itu tidak
hanya jujur; ia mengetahui bahwa Anda punya keledai dan itu
memudahkan perjalanan Anda. Si Pembohong kebetulan tidak
mengetahui bahwa Anda tak punya perahu: seandainya ia tahu
hal itu, pasti diusulkannya jalan sungai.”
Catatan
“Orang-orang menganggap kemampuan dan berkah para Sufi sulit
dipercaya. Tetapi orang-orang semacam itu adalah yang tidak
memiliki pengetahuan tentang kepercayaan yang sebenarnya.
Mereka mempercayai segala hal yang tidak benar, karena
kebiasaan atau karena diberi tahu oleh penguasa.
Kepercayaan yang sebenarnya merupakan sesuatu yang berbeda.
Mereka yang mampu memiliki keperccayaan yang sebenarnya
adalah yang pernah mengalami sesuatu. Jika mereka sudah
pernah mengalami kemampuan dan berkah, yang sekedar
diceritakan tidak ada harganya bagi mereka.”
Kata-kata tersebut, menurut Sayed Syah (Qadiri, meninggal
tahun 1854) kadang-kadang mengawali kisah “Jalan Gunung”
ini.
——————————————————————————————–
KEPERLUAN YANG MAKIN MENDESAK
Pada suatu malam seorang penguasa tiran Turkestan sedang
mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang
darwis, ketika ia tiba-tiba bertanya tentang Kidir.
“Kidir,” kata darwis itu, “datang kalau diperlukan.
Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuan
menjadi milik Paduka,”
“Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?”
“Siapa pun bisa,” kata darwis itu.
“Siapa pula lebih ‘bisa’ dariku?” pikir Sang Raja; dan ia
pun mengedarkan pengumuman:
“Siapa yang bisa menghadirkan Kidir Yang Gaib di hadapanku,
akan kujadikan orang kaya.”
Seorang lelaki miskin dan tua yang bernama Bakhtiar Baba,
setelah mendengar pengumuman itu, menyusun akal. Katanya
kepada istrinya,
“Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapa
lama kemudian aku harus mati. Namun, itu tak apalah, sebab
kekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya.”
Kemudian Bakhtiar menghadap raja dan mengatakan bahwa ia
akan mencari Kidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja
bersedia memberinya seribu keping uang emas. “Kalau kau bisa
menemukan Kidir,” kata Raja, “kau akan mendapat sepuluh kali
seribu keping uang emas ini. Kalau gagal, kau akan mati,
dipancung ditempat ini sebagai peringatan kepada siapapun
yang akan mencoba mempermainkan rajanya.”
Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang dan memberikan
uang itu kepada istrinya, sebagai jaminan hari tuanya. Sisa
hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannya
untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.
Pada hari keempat puluh ia menghadap raja. “Yang Mulia,”
katanya, “kerakusanmu telah menyebabkanmu berpikir bahwa
uang akan bisa mendatangkan Kidir. Tetapi Kidir, kata orang,
tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan
kerakusan.”
Sang Raja sangat marah. “Orang celaka, kalau telah
mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini berani mencampuri
keinginan seorang raja?”
Bakhtiar berkata, “Menurut dongeng, semua orang bisa bertemu
Kidir, tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnya
apabila maksud orang itu benar. Mereka bilang, Kidir akan
menemui orang selama ia bisa memanfaatkan saat kunjungan
itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya.”
“Cukup ocehan itu,” kata Sang Raja, “sebab tak akan
memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteri
yang berkumpul di sini agar memberikan nasehatnya tentang
cara yang terbaik untuk menghukummu.”
Ia menoleh ke Menteri Pertama dan berkata, “Bagaimana cara
orang itu mati?”
Menteri Pertama menjawab, “Panggang dia hidup-hidup, sebagai
peringatan.”
Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya berkata,
“Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya.”
Menteri Ketiga berkata, “Sediakan kebutuhan hidup orang itu,
agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup
keluarganya.”
Sementara pembicaraan itu berlangsung, seorang bijaksana
yang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan. Segera orang
mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi
dalam dirinya.”
“Apa maksudmu?” tanya Raja.
“Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya tukang roti, jadi ia
berbicara tentang panggang-memanggang. Menteri Kedua dulu
tukang daging, jadi ia bicara tentang potong-memotong
daging. Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmu
kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.
Catat dua hal ini. Pertama, Kidir muncul melayani setiap
orang sesuai dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan
kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini–yang kuberi nama
Baba karena pengorbanannya-telah didesak oleh keputus-asaan
untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin
mendesak sehingga akupun muncul didepanmu.”
Ketika orang-orang itu memperhatikannya, orang tua yang
bijaksana itupun lenyap begitu saja. Sesuai dengan yang
diperintahkan Kidir. Raja memberikan belanja teratur kepada
Bakhtiar. Menteri Pertama dan kedua dipecat, dan seribu
keping uang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh
Bakhtiar dan istrinya.
Bagaimana Raja bisa bertemu Kidir lagi, dan apa yang terjadi
antara keduanya? Itu semua ada dalam dongeng di Dunia Gaib.
Catatan
Konon, Bakhtiar Baba adalah seorang Sufi bijaksana yang
hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Korasan,
sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi.
Kisah ini, dikatakan juga terjadi atas sejumlah besar Syeh
Sufi lain, menggambarkan pengertian tentang terjalinnya
keinginan manusia dengan “makhluk” lain. Kidir merupakan
penghubung antara keduanya.
Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaludin
Rumi:
Peralatan baru bagi pemahaman akan ada apabila keperluan
menuntutnya.
Karenanya, O manusia, jadikan keperluanmu makin mendesak,
sehingga kau bisa mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi.
Versi ini diucapkan oleh seorang guru darwis dari
Afganistan.
——————————————————————————————–
KERETA
Ada tiga macam ilmu dalam telaah kemanusiaan. Yang pertama
adalah Ilmu tentang pengetahuan biasa; yang kedua adalah
Ilmu tentang keadaan batin yang luar biasa, yang biasanya
disebut puncak kenikmatan. Yang ketiga, yang penting, adalah
Ilmu tentang Kenyataan yang Benar; yang ketiga ini berada di
antara kedua Ilmu yang disebut sebelumnya.
Hanya pengetahuan batin yang nyata bisa menghasilkan Ilmu
Kenyataan yang Benar. Ilmu yang kedua lagi hanyalah berupa
cermin–dalam bentuknya masing-masing dari yang ketiga. Yang
kedua itu boleh dikatakan tak ada gunanya tanpa yang ketiga.
Bayangkan seorang kusir. Ia duduk di kereta, ditarik kuda,
dipimpin dirinya sendiri. Kecerdasan adalah “kendaraan” itu,
suatu bentuk luar yang di dalamnya kita menyatakan di mana
diri kita berada dan apa yang harus kita kerjakan. Kendaraan
menyebabkan orang dan kuda bisa melakukan tugasnya. Itulah
yang kita sebut tashkil, ujud luar atau perumusan.
Kuda, atau tenaga penggerak, adalah energi yang disebut
“Suatu keadaaan perasaan” atau kekuatan lain. Itu diperlukan
untuk menggerakkan kereta. Orang, dalam gambaran kita itu,
adalah yang melihat dan memahami, dengan cara yang lebih
unggul dari yang lain, maksud dan kemungkinan keadaan, dan
yang memungkinkan kereta itu bergerak maju menuju tujuannya.
Salah satu di antara ketiganya itu, sendiri-sendiri, tentu
saja bisa melakukan sesuatu. Namun, peran gabungan, yang
kita sebut gerak kereta, tidak akan terwujud apabila
ketiganya tidak dihubungkan dengan Cara yang Benar.
Hanya “manusia,” Diri yang nyata mengetahui hubungan ketiga
unsur itu, dan kebutuhannya satu sama lain.
Di kalangan Sufi, Karya Agung adalah pengetahuan
menggabungkan ketiga unsur tersebut. Terlalu banyak orang,
kuda yang tak sesuai, kereta yang terlalu berat atau terlalu
ringan –hasilnya tidak akan memadai.
Catatan
Nukilan ini tercatat dalam sebuah buku catatan darwis dalam
Bahasa Persia, dan berbagai bentuk kisah itu terdapat dalam
mazhab-mazhab Sufi yang tersebar mulai Damaskus sampai
Delhi.
——————————————————————————————–
KETIKA AIR BERUBAH
Pada zaman dahulu, Kidir, Guru Musa, memberi peringatan
kepada manusia. Pada hari tertentu, katanya, semua air
didunia yang tidak disimpan secara khusus akan lenyap.
Sebagai gantinya akan ada air baru, yang mengubah manusia
menjadi gila.
Hanya seorang yang menangkap makna peringatan itu. Ia
mengumpulkan air dan menyimpannya di tempat yang aman.
Ditunggunya saat yang di sebut-sebut itu.
Pada hari yang dipastikan itu, sungai-sungai berhenti
mengalir, sumur-sumur mengering. Melihat kejadian itu, orang
yang menangkap makna peringatan itupun pergi ketempat
penyimpanan dan meminum airnya.
Ketika dari tempat persembunyiannya itu ia menyaksikan air
terjun kembali memuntahkan air, orang itu pun menggabungkan
dirinya kembali dengan orang-orang lain. Ternyata mereka itu
kini berpikir dan berbicara dengan cara sama sekali lain
dari sebelumnya; mereka tidak ingat lagi apa yang pernah
terjadi, juga tidak ingat sama sekali bahwa pernah mendapat
peringatan. Ketika orang itu mencoba berbicara dengan
mereka, ia menyadari bahwa ternyata mereka telah
menganggapnya gila. Terhadapnya, mereka menunjukkan rasa
benci atau kasihan, bukan pengertian.
Mula-mula orang itu tidak mau minum air yang baru; setiap
hari ia pergi ke tempat persembunyiannya, minum air
simpanannya. Tetapi, akhirnya ia memutuskan untuk meminum
saja air baru itu; ia tidak tahan lagi menderita kesunyian
hidup; tindakan dan pikirannya sama sekali berbeda dengan
orang-orang lain. Ia meminum air baru itu, dan menjadi
seperti yang lain-lain. Ia pun sama sekali melupakan air
simpanannya, dan rekan rekannya mulai menganggapnya sebagai
orang yang baru saja waras dari sakit gila.
Catatan
Orang yang dianggap menciptakan kisah ini, Dhun-Nun, seorang
Mesir (meninggal tahun 860), selalu dihubung-hubungkan
dengan suatu bentuk Perserikatan Rahasia. Ia adalah tokoh
paling awal dalam sejarah Kaum Darwis Malamati, yang oleh
para ahli Barat sering dianggap memiliki persamaan yang erat
dengan keahlian anggota Persekutuan Rahasia. Konon, Dhun-Nun
berhasil menemukan arti hieroglip Firaun.
Versi ini dikisahkan oleh Sayid Sabir Ali-Syah, seorang
ulama Kaum Chishti, yang meninggal tahun 1818.
——————————————————————————————–
KETIKA MAUT DATANG KE BAGDAD
Pada suatu hari, pengikut seorang Sufi di Bagdad sedang
duduk di sudut sebuah warung ketika didengarnya dua mahkluk
sedang bercakap-cakap. Berdasarkan apa yang dipercakapkan
itu, pengikut Sufi tersebut mengetahui bahwa salah satu
diantara yang sedang berbicara itu adalah Malaikat Maut.
“Saya bertugas menemui sejumlah orang di kota ini selama
tiga minggu mendatang.” kata Malaikat itu kepada temannya
bicara.
Karena takut, pengikut Sufi itu menyembunyikan diri sampai
yang berbicara itu berlalu. Kemudian, setelah memeras otak
bagaimana caranya menghindarkan diri dari maut, ia
memutuskan bahwa apabila ia menjauhkan diri dari Bagdad,
tentunya Maut tak akan bisa mencapainya. Berdasarkan alasan
itu, iapun segera menyewa kuda yang tercepat, dan memacunya
siang malam menuju Samarkand.
Sementara itu Malaikat Maut menemui guru Sufi; mereka berdua
membicarakan beberapa orang. “Dan di mana gerangan
pengikutmu Si Anu?” tanya Maut.
“Tentunya ia ada di kota, sedang merenungkan sesuatu,
mungkin di sebuah warung minum,” jawab Sang Guru.
“Aneh,” kata Sang Malaikat. “Ia terdapat dalam daftarku. Ya,
betul, ini dia; dan aku harus menjemputnya dalam waktu empat
minggu ini di Samarkand, ya, Samarkand.”
Catatan
Versi kisah ini diambil dari Hikayat -i- Naqshia ‘Kisah
Nasib.’
Pencipta kisah ini, kisah yang sangat digemari di Timur
Tengah, adalah Sufi Agung Fudail bin Ayad, bekas perampok
yang meninggal pada awal abad kesembilan.
Menurut cerita Sufi, yang dikukuhkan oleh bahan-bahan
sejarah, Harun Al-Rasyid Kalifah Bagdad mencoba memusatkan
segala pengetahuan di istana dalam pengayomannya, tetapi tak
ada seorangpun yang menghendaki Raja Segala Raja itu meminta
bantuan dalam menjalankan tugasnya.
Ahli sejarah Sufi menceritakan bagaimana Harun dan Perdana
Menterinya mengunjungi Mekah untuk bertemu dengan Fudail,
yang mengatakan, “Sang Penguasa Kaum Setia: Tampaknya wajah
Baginda yang cemerlang itu akan jatuh ke api neraka!”
Harun bertanya kepada Sang Bijak, “Pernahkah kau mengenal
orang lebih mampu mengambil jarak daripada kau sendiri?”
Fudail menjawab, “Pernah: Baginda lebih mampu mengambil
jarak dari lingkungan dunia biasa ini; tetapi baginda telah
mampu mengambil jarak yang lebih besar yakni dari
keabadian!”
Fudail mengatakan kepada Kalifah bahwa kekuasaan atas diri
sendiri lebih berharga daripada kekuasaan selama seribu
tahun atas orang-orang lain.
——————————————————————————————–
KISAH API
Pada zaman dahulu ada seorang yang merenungkan cara
bekerjanya Alam, dan karena ketekunan dan percobaanpercobaannya,
akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan.
Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan untuk berkelana dari
satu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyak
tentang penemuannya.
Nur menyampaikan rahasianya itu kepada berbagai-bagai
kelompok masyarakat. Beberapa di antaranya ada yang
memanfaatkan pengetahuan itu. Yang lain mengusirnya, mengira
bahwa ia mungkin berbahaya, sebelum mereka mempunyai waktu
cukup untuk mengetahui betapa berharganya penemuan itu bagi
mereka. Akhirnya, sekelompok orang yang menyaksikannya
memamerkan cara pembuatan api menjadi begitu ketakutan
sehingga mereka menangkapnya dan kemudian membunuhnya, yakin
bahwa ia setan.
Abad demi abad berlalu. Bangsa pertama yang belajar tentang
api telah menyimpan rahasia itu untuk para pendeta, yang
tetap berada dalam kekayaan dan kekuasaan, sementara rakyat
kedinginan.
Bangsa kedua melupakan cara itu, dan malah memuja alat-alat
untuk membuatnya. Bangsa yang ketiga memuja patung yang
menyerupai Nur, sebab ialah yang telah mengajarkan hal itu.
Yang keempat tetap menyimpan kisah api dalam kumpulan
dongengnya: ada yang percaya, ada yang tidak. Bangsa yang
kelima benar-benar mempergunakan api, dan itu bisa
menghangatkan mereka, menanak makanan mereka, dan
mempergunakannya untuk membuat alat-alat yang berguna bagi
mereka.
Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, seorang bijaksana dan
beberapa pengikutnya mengadakan perjalanan melalui
negeri-negeri bangsa-bangsa tadi. Para pengikut itu
tercengang melihat bermacam-macamnya upacara yang dilakukan
bangsa-bangsa itu; dan mereka pun berkata kepada gurunya,
“Tetapi semua kegiatan itu nyatanya berkaitan dengan
pembuatan api, bukan yang lain. Kita harus mengubah mereka
itu!”
Sang Guru menjawab, “Baiklah. Kita akan memulai lagi
perjalanan ini. Pada akhir perjalanan nanti, mereka yang
masih bertahan akan mengetahui masalah kebenarannya dan
bagaimana mendekatinya.”
Ketika mereka sampai pada bangsa yang pertama rombongan itu
diterima dengan suka hati. Para pendeta mengundang mereka
menghadiri upacara keagamaan, yakni pembuatan api. Ketika
upacara selesai, dan bangsa itu sedang mengagumi apa yang
mereka saksikan, guru itu berkata, “Apa ada yang ingin
mengatakan sesuatu?”
Pengikut pertama berkata, “Demi Kebenaran, saya merasa harus
menyampaikan sesuatu kepada rakyat ini.”
“Kalau kau mau melakukannya atas tanggungan sendiri,
silahkan saja,” kata gurunya.
Dan pengikut pertama itupun melangkah ke muka kehadapan
pemimpin bangsa dan para pendeta itu, lalu katanya, “Aku
bisa membuat keajaiban yang kalian katakan sebagai
perwujudan kekuatan dewa itu. Kalau aku kerjakan hal itu,
maukah kalian menerima kenyataan bahwa bertahun-tahun
lamanya kalian telah tersesat?”
Tetapi para pendeta itu berteriak, “Tangkap dia!” dan orang
itu pun dibawa pergi, tak pernah muncul kembali.
Para musafir itu melanjutkan perjalanan, dan sampai di
negeri bangsa yang kedua dan memuja alat-alat pembuatan api.
Ada lagi seorang pengikut yang memberanikan diri mencoba
menyehatkan akal bangsa itu.
Dengan izin gurunya ia berkata, “Saya mohon izin untuk
berbicara kepada kalian semua sebagai bangsa yang berakal.
Kalian memuja alat-alat untuk membuat sesuatu, dan bukan
hasil pembuatan itu. Dengan demikian kalian menunda
kegunaannya. Saya tahu kenyataan yang mendasari upacara
ini.”
Bangsa itu terdiri dari orang-orang yang lebih berakal.
Tetapi mereka berkata kepada pengikut kedua itu, “Saudara
diterima baik sebagai musafir dan orang asing di antara
kami. Tetapi, sebagai orang asing, yang tak mengenal sejarah
dan adat kami, Saudara tak memahami apa yang kami kerjakan.
Saudara berbuat kesalahan. Barangkali Saudara malah berusaha
membuang atau mengganti agama kami. Karena itu kami tidak
mau mendengarkan Saudara.”
Para musafir itu pun melanjutkan perjalanan.
Ketika mereka sarnpai ke negeri bangsa ke tiga, mereka
menyaksikan di depan setiap rumah terpancang patung Nur,
orang pertama yang membuat api. Pengikut ketiga berkata
kepada pemimpin besar itu.
“Patung itu melambangkan orang, yang melambangkan kemampuan,
yang bisa dipergunakan.”
“Mungkin begitu,” jawab para pemuja Nur, “tetapi yang bisa
menembus rahasia sejati hanya beberapa orang saja.”
“Hanya bagi beberapa orang yang mau mengerti, bukan bagi
mereka yang menolak menghadapi kenyataan,” kata pengikut
ketiga itu.
“Itu bid’ah kepangkatan, dan berasal dari orang yang bahkan
tak bisa mempergunakan bahasa kami secara benar, dan bukan
pendeta yang ditahbiskan menurut adat kami,” kata
pendeta-pendeta itu. Dan pengikut darwis itupun bisa
melanjutkan usahanya.
Musafir itu melanjutkan perjalanannya, dan sampai di negeri
bangsa keempat. Kini pengikut keempat maju ke depan
kerumunan orang.
“Kisah pembuatan api itu benar, dan saya tahu bagaimana
melaksanakannya,” katanya.
Kekacauan timbul dalam bangsa itu, yang terpecah menjadi
beberapa kelompok. Beberapa orang berkata, “Itu mungkin
benar, dan kalau memang demikian, kita ingin mengetahui
bagaimana cara membuat api.” Ketika orang-orang ini diuji
oleh Sang Guru dan pengikutnya, ternyata sebagian besar
ingin bisa membuat api untuk kepentingan sendiri saja, dan
tidak menyadari bahwa bisa bermanfaat bagi kemajuan
kemanusiaan. Begitu dalamnya dongeng-dongeng keliru itu
merasuk ke dalam pikiran orang-orang itu sehingga mereka
yang mengira dirinya mewakili kebenaran sering merupakan
orang-orang yang goyah, yang tidak akan juga membuat api
bahkan setelah diberi tahu caranya.
Ada kelompok lain yang berkata, “jelas dongeng itu tidak
benar. Orang itu hanya berusaha membodohi kita, agar ia
mendapat kedudukan di sini.”
Dan kelompok lain lagi berkata, “Kita lebih suka dongeng itu
tetap saja begitu, sebab ialah menjadi dasar keutuhan bangsa
kita. Kalau kita tinggalkan dongeng itu, dan kemudian
ternyata penafsiran baru itu tak ada gunanya, apa jadinya
dengan bangsa kita ini?”
Dan masih banyak lagi pendapat di kalangan mereka.
Rombongan itu pun bergerak lagi, sampai ke negeri bangsa
yang kelima; di sana pembuatan api dilakukan sehari-hari,
dan orang-orang juga sibuk melakukan hal-hal lain.
Sang Guru berkata kepada pengikut-pengikutnya,
“Kalian harus belajar cara mengajar, sebab manusia tidak
ingin diajar. Dan sebelumnya, kalian harus mengajar mereka
bahwa masih ada saja hal yang harus dipelajari. Mereka
membayangkan bahwa mereka siap belajar. Tetapi mereka ingin
mempelajari apa yang mereka bayangkan harus dipelajari,
bukan apa yang pertama-tama harus mereka pelajari. Kalau
kalian telah mempelajari ini semua, kalian baru bisa
mengatur cara mengajar. Pengetahuan tanpa kemampuan istimewa
untuk mengajarkannya tidak sama dengan pengetahuan dan
kemampuan.”
Catatan
Untuk menjawab pertanyaan “Apakah orang barbar itu?” Ahmad
al-Badawi (meninggal tahun 1276) berkata,
“Seorang barbar adalah manusia yang daya pahamnya begitu
tumpul sehingga ia mengira bisa mengerti dengan memikirkan
atau merasakan sesuatu yang hanya dipahami lewat
pengembangan dan penerapan terus-menerus terhadap usaha
mencapai Tuhan.
Manusia menertawakan Musa dan Yesus, atau karena mereka
sangat tumpul, atau karena mereka telah menyembunyikan diri
mereka sendiri apa yang dimaksudkan mereka itu ketika mereka
berbicara dan bertindak.”
Menurut cerita darwis, ia dituduh menyebarkan Kristen dan
orang Islam, tetapi ditolak oleh orang-orang Kristen karena
menolak dogma Kristen lebih lanjut secara harafiah.
Ia pendiri kaum Badawi Mesir.
——————————————————————————————–
KISAH PASIR
Dari mata airnya yang nun jauh di gunung sana, sebatang
sungai mengalir melewati apapun di tebing dan ngarai,
akhirnya mencapai padang pasir. Selama ini ia telah berhasil
mengatasi halangan apapun dan sekarang berusaha menaklukkan
halangan yang satu ini. Tetapi setiap kali sungai itu
cepat-cepat melintasinya, airnya segera lenyap di pasir.
Sungai itu sangat yakin, bahwa ia ditakdirkan melewati
padang pasir itu, namun ia tidak bisa mengatasi masalahnya
Lalu, terdengar suara tersembunyi yang berasal dari padang
pasir itu, bisiknya, “Angin bisa menyeberangi pasir, Sungai
pun bisa.”
Sungai menolak pernyataan itu, ia sudah cepat-cepat
menyeberangi padang pasir, tetapi airnya terserap: angin
bisa terbang, dan oleh karena itulah ia bisa menyeberangi
padang pasir.
“Dengan menyeberang seperti yang kulakukan itu jelas, kau
tak akan berhasil. Kau hanya akan lenyap atau jadi
paya-paya. Kau harus mempersilahkan angin membawamu
menyeberangi padang pasir, ketempat tujuan.”
Tetapi bagaimana caranya? “Dengan membiarkan dirimu terserap
angin.”
Gagasan itu tidak bisa diterima Si Sungai. Bagaimanapun,
sebelumnya ia sama sekali tidak pernah terserap. Ia tidak
mau kehilangan dirinya. Dan kalau dirinya itu lenyap, apakah
bisa dipastikan akan didapatnya kembali?
“Angin,” kata Si Pasir, “menjalankan tugas semacam itu. Ia
membawa air, membawanya terbang menyeberang padang pasir,
dan menjatuhkannya lagi. Jatuh ke bumi sebagai hujan, air
pun menjelma sungai.”
“Bagaimana aku bisa yakin bahwa itu benar?”
“Memang benar, dan kalau kau tak mempercayainya, kau hanya
akan menjadi paya-paya; dan menjadi paya-paya itupun
memerlukan waktu bertahun-tahun berpuluh tahun. Dan
paya-paya itu jelas tak sama dengan sungai, bukan?”
“Tapi, tak dapatkah aku tetap berupa sungai, sama dengan
keadaanku kini?”
“Apapun juga yang terjadi, kau tidak akan bisa tetap berupa
dirimu kini,” bisik suara itu. “Bagian intimu terbawa
terbang, dan membentuk sungai lagi nanti. Kau disebut sungai
juga seperti kini, sebab kau tak tahu bagian dirimu yang
mana inti itu.”
Mendengar hal itu, dalam pikiran Si Sungai mulai muncul
gema. Samar-samar, ia ingat akan keadaan ketika ia –atau
bagian dirinya? –berada dalam pelukan angin. Ia juga
ingat– benar demikiankah? bahwa hal itulah yang nyatanya
terjadi, bukan hal yang harus terjadi.
Dan sungai itu pun membubungkan uapnya ke tangan-tangan
angin yang terbuka lebar, dan yang kemudian dengan tangkas
mengangkatnya dan menerbangkannya, lalu membiarkannya
merintik lembut segera setelah mencapai atap gunung –nun
disana yang tak terkira jauhnya. Dan karena pernah meragukan
kebenarannya, sungai itu ini bisa mengingat-ingat dan
mencatat lebih tandas pengalamannya secara terperinci. Ia
merenungkannya, “Ya, kini aku mengenal diriku yang
sebenarnya.”
Sungai itu telah mendapat pelajaran. Namun Sang Pasir
berbisik, “Kami tahu sebab kami menyaksikannya hari demi
hari; dan karena kami, pasir ini, terbentang mulai dari tepi
pasir sampai ke gunung.”
Dan itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa cara Sungai
Kehidupan melanjutkan perjalanannya tertulis di atas Pasir.
Catatan
Kisah indah ini masih beredar dalam tradisi lisan dalam
pelbagai bahasa, hampir selalu terdengar di kalangan para
darwis dan murid-muridnya.
Kisah ini dicantumkan oleh Sir Fairfax Cartwright dalam
bukunya, Mystic Rose from the Garden of the King ‘Mawar
Mistik dari Taman Raja’ terbit tahun 1899.
Versi ini berasal dari Awad Afifi, orang Tunisia, yang
meninggal tahun 1870.
——————————————————————————————–
MEMBAWA SEPATU
Dua orang saleh dan terhormat pergi ke masjid bersama-sama.
Yang pertama melepas sepatunya, lalu meletakkannya rapi-rapi
di luar pintu. Yang kedua melepaskan sepatunya, menangkupkan
di kedua solnya, lalu membawanya masuk masjid.
Sekelompok orang-orang saleh lain, yang duduk di dekat pintu
masjid. Terdengar pembicaraan tentang kedua orang yang baru
masuk tadi; yang mana diantara keduanya yang benar. “Jika
orang masuk mesjid telanjang kaki, bukankah sebaiknya
meninggalkan saja sepatunya di luar?” tanya seseorang.
Seorang yang lain menyambung, “Tetapi tidakkah kita harus
mempertimbangkan bahwa orang yang membawa sepatunya ke
masjid itu selalu ingat akan dirinya?”
Ketika dua orang saleh itu selesai sembahyang, mereka
ditanyai secara terpisah tentang masalah itu oleh kedua
kelompok yang tadi berbeda pendapat.
Orang pertama menjawab, “Saya meninggalkan sepatu di luar
masjid atas alasan biasa. Jika seandainya ada orang yang
ingin mencurinya, ia akan berusaha untuk menahan dirinya
agar tidak melakukan tindakan haram itu, dengan demikian
iapun telah mendapatkan kebaikan bagi dirinya sendiri.
“Pendengarnya sangat terkesan oleh ucapan orang yang saleh
itu, yang menganggap harta miliknya tak begitu berharga,
sehingga diserahkan begitu saja kepada nasib yang mungkin
menimpanya.
Pada saat yang sama, orang kedua berkata, “Saya membawa
sepatu saya ke masjid karena apabila saya tinggalkan di
luar, mungkin akan menimbulkan dorongan untuk mencurinya.
Siapa pun yang tak bisa menahan dorongan ini tentulah
melibatkanku dalam dosanya.” Pendengarnya sangat terkesan
oleh pernyataan yang saleh itu dan memuji kedalaman
pikirannya.
Namun, ada orang lain, yang juga bijaksana, yang berada
diantara kerumunan itu, berteriak, “Sementara kalian berdua
dan para pengikutmu terbuai dalam perasaan kecilmu, saling
bicara tentang hal-hal yang diandaikan, ada hal-hal yang
sesungguh-sungguh nyata baru saja terjadi.”
“Apa itu?” tanya kerumunan orang itu.
“Tak ada seorangpun yang tergoda oleh sepatu itu. Tak ada
orang yang tak tergoda oleh sepatu itu. Si pendosa yang
diandaikan itu tak pernah lewat. Namun, seseorang yang sama
sekali lain telah memasuki masjid, seseorang yang tak
memiliki sepatu– yang tak memikirkan akan meninggalkannya
di luar pintu atau membawanya ke dalam. Tak ada seorangpun
yang memperhatikan perilakunya. Ia tidak menyadari akibat
yang di timbulkannya terhadap orang-orang yang melihatnya
atau tak melihatnya. Namun, karena ketulusannya yang
mendalam, doa-doanya di masjid hari ini secara langsung
membantu meringankan orang-orang yang mungkin sunguh-sungguh
mencuri atau tidak jadi mencuri atau memperbaiki diri
sendiri karena menghadapi godaan.”
Apakah belum juga kau ketahui bahwa sekedar perilaku yang
sepenuhnya disadari, betapapun berharganya dalam
pengertiannya sendiri, merupakan hal yang tak berarti
apabila diketahui bahwa sesungguhnya ada orang-orang yang
sungguh-sungguh, bijaksana?
Catatan
Kisah ini, yang berasal dari ajaran Kaum Khilwati, didirikan
oleh Khilwati yang meninggal tahun 1397, sering sekali
dikutip. Pokok pikirannya, yang tersebar luas di kalangan
darwis, adalah keyakinan bahwa mereka yang telah
mengembangkan nilai-nilai batiniyah memiliki pengaruh yang
jauh lebih besar terhadap masyarakat daripada mereka yang
berusaha bertindak berdasarkan alasan moral saja. Yang
pertama disebut “Manusia Tindakan yang Sebenar-benarnya,”
yang kedua “Mereka yang Tak Tahu namun seolah-olah Tahu! ”
——————————————————————————————–
MIMPI DAN IRISAN ROTI
Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan
yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka
bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.
Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang
mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di
kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak
memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil
mencapai persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan
untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga.
Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.
Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja.
Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan
mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus
dilakukan.
Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari
terbit.
“Inilah mimpiku,” kata yang pertama. “Aku berada di
tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan
tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang
mengatakan kepadaku, ‘Kau berhak makan makanan itu, sebab
kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas
mendapat pujian.”
“Aneh sekali,” kata musafir kedua. “Sebab dalam mimpiku, aku
jelas-jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku.
Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu,
berkata, ‘Kau berhak akan makanan itu lebih dari
kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih
sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk
menjadi penuntun manusia.”
Musafir ketiga berkata, “Dalam mimpiku aku tak melihat
apapun, tak berkata apapun. Aku merasakan suatu kekuatan
yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, lalu
memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan
semalam.”
Catatan
Kisah ini salah sebuah yang dianggap merupakan karangan Syah
Mohammad Gwath Syatari, yang meninggal tahun 1563. Ia
menulis risalah terkenal, Lima Permata, yang menggambarkan
cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi
sihir dan tenaga gaib, yang didasarkan pada model-model
kuno. Ia merupakan Guru yang telah melahirkan lebih dari
empat belas Kaum dan sangat dihargai oleh Maharaja India,
Humayun.
Meskipun ia dipuja-puja beberapa kalangan sebagai orang
suci, beberapa tulisannya dianggap oleh golongan pendeta
sebagai menyalahi aturan suci, dan oleh karenanya mereka
menuntutnya agar dihukum. Ia akhirnya dibebaskan dari
tuduhan murtad, karena hal-hal yang dikatakan dalam keadaan
pikiran yang istimewa tidak bisa dinilai dengan ukuran
pengetahuan biasa. Makamnya di Gwalior, yang merupakan
tempat ziarah Sufi yang sangat penting.
Alur yang sama juga dipergunakan dalam kisah-kisah Kristen
yang tersebar di kalangan pendeta pada abad pertengahan.
——————————————————————————————–
ORANG YANG BERJALAN DI ATAS AIR
Seorang darwis yang suka berpegang pada kaidah, yang berasal
dari mazhab sangat saleh, pada suatu hari berjalan menyusur
tepi sungai. Ia memusatkan perhatian pada pelbagai masalah
moral dan ajaran, sebab itulah yang menjadi pokok perhatian
pengajaran Sufi dalam mazhabnya. Ia menyamakan agama
perasaan dengan pencarian Kebenaran mutlak.
Tiba-tiba renungannya terganggu oleh teriakan keras:
seseorang terdengar mengulang-ngulang suatu ungkapan darwis.
“Tak ada gunanya itu,” katanya kepada diri sendiri, “sebab
orang itu telah salah mengucapkannya. Seharusnya
diucapkannya YA-HU, tapi dia mengucapkannya U-YA-HU.”
Kemudian ia menyadari bahwa, sebagai Darwis yang lebih
teliti, ia mempunyai kewajiban untuk meluruskan ucapan orang
itu. Mungkin orang itu tidak pernah mempunyai kesempatan
mendapat bimbingan yang baik, dan karenanya telah berbuat
sebaik-baiknya untuk menyesuaikan diri dengan gagasan yang
ada di balik suara yang diucapkannya itu.
Demikianlah Darwis yang pertama itu menyewa perahu dan pergi
ke pulau di tengah-tengah arus sungai, tempat asal suara
yang didengarnya tadi.
Didapatinya orang itu duduk disebuah gubuk alang-alang,
bergerak-gerak sangat sukar teratur mengikuti ungkapan yang
diucapkannya itu. “Sahabat,” kata darwis pertama, “Anda
keliru mengucapkan ungkapan itu. Saya berkewajiban
memberitahukan hal ini kepada Anda, sebab ada pahala bagi
orang yang memberi dan menerima nasehat. Inilah ucapan yang
benar.” Lalu di beritahukannya ucapan itu.
“Terima kasih,” kata darwis yang lain itu dengan rendah
hati.
Darwis pertama turun ke perahunya lagi, sangat puas, sebab
baru saja berbuat amal. Bagaimanapun, kalau orang bisa
mengulang-ngulang ungkapan rahasia itu dengan benar, ada
kemungkinan bisa berjalan diatas air. Hal itu memang belum
pernah disaksikannya sendiri tetapi–berdasarkan alasan
tertentu-darwis pertama itu ingin sekali bisa melakukannya.
Kini ia tak mendengar lagi suara gubuk alang-aalang itu,
namun ia yakin bahwa nasehatnya telah dilaksanakan
sebaik-baiknya.
Kemudian didengarnya kembali ucapan U-YA yang keliru itu
ketika darwis yang di pulau tersebut mulai mengulang-ngulang
ungkapannyaÉ
Ketika darwis pertama merenungkan hal itu, memikirkan betapa
manusia memang suka bersikeras mempertahankan kekeliruan,
tiba-tiba disaksikannya pandangan yang menakjubkan. Dari
arah pulau itu, darwis kedua tadi tampak menuju perahunya,
berjalan diatas airÉ
Karena takjubnya, ia pun berhenti mendayung. Darwis keduapun
mendekatinya, katanya, “Saudara, maaf saya mengganggu Anda.
Saya datang untuk menanyakan cara yang benar untuk
mengucapkan ungkapan yang Anda beritahukan kepada saya tadi;
sulit benar rasanya mengingat-ingatnya.”
Catatan
Dalam Bahasa Indonesia, hanya satu arti yang bisa
diungkapkan oleh kisah ini. Dalam versi Arab sering
dipergunakan kata-kata yang bunyinya sama tetapi berbeda
arti (homonim) untuk menyatakan bahwa kata itu bisa
dipergunakan untuk memperdalam kesadaran, disamping juga
menunjukkan sesuatu yang nilainya dangkal.
Di samping terdapat dalam sastra masa kini yang populer di
Timur, kisah ini juga didapati dalam naskah-naskah pelajaran
darwis, beberapa diantaranya sangat penting.
Versi ini berasal dan Kaum Asaaseen (‘hakiki,’ ‘asli’), di
Timur Dekat dan Tengah.
——————————————————————————————–
ORANG YANG MENYADARI KEMATIAN
Konon, ada seorang raja darwis yang berangkat mengadakan
perjalanan melalui laut. Ketika penumpang-penumpang lain
memasuki perahu satu demi satu, mereka melihatnya dan
sebagai lazimnya –merekapun meminta nasehat kepadanya. Apa
yang dilakukan semua darwis tentu sama saja, yakni memberi
tahu orang-orang itu hal yang itu-itu juga: darwis itu
tampaknya mengulangi saja salah satu rumusan yang menjadi
perhatian darwis sepanjang masa.
Rumusan itu adalah: “Cobalah menyadari maut, sampai kau tahu
maut itu apa.” Hanya beberapa penumpang saja yang secara
khusus tertarik akan peringatan itu.
Mendadak ada angin topan menderu. Anak kapal maupun
penumpang semuanya berlutut, memohon agar Tuhan
menyelamatkan perahunya. Mereka terdengar berteriak-teriak
ketakutan, menyerah kepada nasib, meratap mengharapkan
keselamatan. Selama itu sang darwis duduk tenang, merenung,
sama sekali tidak memberikan reaksi terhadap gerak-gerik dan
adegan yang ada disekelilingnya.
Akhirnya suasana kacau itu pun berhenti, laut dan langit
tenang, dan para penumpang menjadi sadar kini betapa tenang
darwis itu selama peristiwa ribut-ribut itu berlangsung.
Salah seorang bertanya kepadanya, “Apakah Tuan tidak
menyadari bahwa pada waktu angin topan itu tak ada yang
lebih kokoh daripada selembar papan, yang bisa memisahkan
kita dari maut?”
“Oh, tentu,” jawab darwis itu. “Saya tahu, di laut selamanya
begitu. Tetapi saya juga menyadari bahwa, kalau saya berada
di darat dan merenungkannya, dalam peristiwa sehari-hari
biasa, pemisah antara kita dan maut itu lebih rapuh lagi.”
Catatan
Kisah ini ciptaan Bayazid dari Bistam, sebuah tempat
disebelah selatan Laut Kaspia. Ia adalah salah seorang
diantara Sufi Agung zaman lampau, dan meninggal pada paroh
kedua abad kesembilan.
Ayahnya seorang pengikut Zoroaster, dan ia menerima
pendidikan kebatinannya di India. Karena gurunya, Abu-Ali
dari Sind, tidak menguasai ritual Islam sepenuhnya, beberapa
ahli beranggapan bahwa Abu-Ali beragama Hindu, dan bahwa
Bayazid tentunya mempelajari metode mistik India. Tetapi
tidak ada ahli yang berwewenang, diantara Sufi, yang
mengikuti anggapan tersebut. Para pengikut Bayazid termasuk
kaum Bistamia.
——————————————————————————————–
ORANG YANG MUDAH NAIK DARAH
Setelah bertahun-tahun lamanya, seorang yang sangat mudah
marah menyadari bahwa ia sering mendapat kesulitan karena
sifatnya itu.
Pada suatu hari ia mendengar tentang seorang darwis yang
berpengetahuan dalam; iapun menemuinya untuk mendapatkan
nasehat.
Darwis itu berkata, “Pergilah ke perempatan anu. Di sana kau
akan menemukan sebatang pohon mati. Berdirilah di bawahnya
dan berikan air kepada siapapun yang lewat di depanmu.”
Orang itu pun menjalankan nasehat tersebut. Hari demi hari
berlalu, dan ia pun dikenal baik sebagai orang yang
mengikuti sesuatu latihan kebaikan hati dan pengendalian
diri, di bawah perintah seorang yang berpengetahuan sangat
dalam.
Pada suatu hari ada seorang lewat bergegas; ia membuang
mukanya ketika ditawari air, dan meneruskan perjalanannya.
Orang yang mudah naik darah itu pun memanggilnya berulang
kali, “Hai, balas salamku! Minum air yang kusediakan ini,
yang kubagikan untuk musafir!”
Namun, tak ada jawaban.
Karena sifatnya yang dulu, orang pertama itu tidak bisa lagi
menguasai dirinya. Ia ambil senjatanya, yang digantungkannya
dipohon mati itu; dibidiknya pengelana yang tak peduli itu,
dan ditembaknya. Pengelana itupun roboh, mati.
Pada saat peluru menyusup ke tubuh orang itu, pohon mati
tersebut, bagaikan keajaiban, tiba-tiba penuh dengan bunga.
Orang yang baru saja terbunuh itu seorang pembunuh; ia
sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan kejahatan yang
paling mengerikan selama perjalanan hidupnya yang panjang.
Nah, ada dua macam penasehat. Yang pertama adalah penasehat
yang memberi tahu tentang apa yang harus dilakukan sesuai
dengan aturan-aturan yang pasti, yang diulang-ulang secara
teratur. Macam yang kedua adalah Manusia Pengetahuan. Mereka
yang bertemu dengan Manusia Pengetahuan akan meminta nasehat
moral, dan menganggapnya sebagai moralis. Namun yang
diabdinya adalah Kebenaran, bukan harapan-harapan saleh.
Catatan
Guru Darwis yang digambarkan dalam kisah ini konon adalah
Najamudin Kubra, salah seorang yang paling agung di antara
para ulama Sufi. Ia mendirikan Mazhab Kubrawi ‘Persaudaraan
Lebih Besar’ yang sangat mirip dengan Mazhab yang kemudian
didirikan oleh Santo Fransiskus. Seperti Santo Asisi,
Najamudin dikenal memiliki kekuasaan gaib atas binatang.
Najamudin adalah salah seorang di antara enam ratus ribu
orang yang mati ketika Khwarizm di Asia Tengah dihancurkan
pada tahun 1221. Konon, Jengis Khan Si Mongol Agung bersedia
menolong jiwanya jika Najamudin mau menyerahkan diri, karena
Sang Kaisar mengetahui kemampuan istimewa Sang Darwis.
Tetapi Najamudin tetap berada di antara para pembela kota
itu dan kemudian ditemukan di antara korban perang tersebut.
Karena telah mengetahui akan datangnya mala petaka itu,
Najamudin menyuruh pergi semua pengikutnya ke tempat aman
beberapa waktu sebelum munculnya gerombolan Mongol tersebut.
——————————————————————————————–
ORANG-ORANG BUTA DAN GAJAH
Di seberang Ghor ada sebuah kota. Semua penduduknya buta.
Seorang raja dengan pengikutnya lewat dekat kota itu; ia
membawa tentara dan memasang tenda di gurun. Ia mempunyai
seekor gajah perkasa, yang dipergunakannya untuk berperang
dan menimbulkan ketakjuban rakyat.
Penduduk kota itu ingin sekali melihat gajah tersebut, dan
beberapa di antara orang-orang buta itupun berlari-lari
bagaikan badut-badut tolol berusaha mendekatinya.
Karena sama sekali tidak mengetahui bentuk dan ujud gajah,
merekapun meraba-raba sekenanya, mencoba membayangkan gajah
dengan menyentuh bagian tubuhnya.
Masing-masing berpikir telah mengetahui sesuatu, sebab telah
menyentuh bagian tubuh tertentu.
Ketika mereka kembali ke tengah-tengah kaumnya, orang-orang
pun berkerumun di sekeliling mereka. Orang-orang itu keliru
mencari tahu tentang kebenaran dari rekan-rekannya sendiri
yang sebenarnya telah tersesat.
Kerumunan orang itu bertanya tentang bentuk dan ujud gajah:
dan mendengarkan segala yang diberitahukan kepada mereka.
Orang yang tangannya menyentuh telinga gajah ditanya tentang
bentuk gajah. Jawabnya, “Gajah itu lebar, kasar, besar, dan
luas, seperti babut.”
Dan orang yang meraba belalainya berkata, “Saya tahu keadaan
sebenarnya. Gajah itu bagai pipa lurus dan kosong, dahsyat
dan suka menghancurkan.”
Orang yang menyentuh kakinya berkata, “Gajah itu perkasa
kokoh, bagaikan tiang.”
Masing-masing telah meraba satu bagian saja. Masing-masing
telah keliru menangkapnya. Tidak ada pikiran yang mengetahui
segala: pengetahuan bukanlah sahabat Si Buta. Semuanya
membayangkan sesuatu, yang sama sekali keliru.
Makhluk tidak mengetahui perihal ketuhanan. Tak ada Jalan
dalam pengetahuan ini yang bisa ditempuh dengan kemampuan
biasa.
Catatan
Kisah ini terkenal dalam versi Rumi “Gajah dalam Rumah
Gelap,” yang dimuat dalam Matnawi. Guru Rumi, hakim Sanai,
menyodorkan versi ini dalam buku pertama yang dianggap
klasik di kalangan Sufi, Taman Kebenaran yang Berpagar. Ia
meninggal tahun 1150.
Kedua kisah itu merupakan penyampaian cara pemikiran yang
sama, yang menurut tradisi, telah dipergunakan oleh
guru-guru Sufi selama berabad-abad.
——————————————————————————————–
ORANG-ORANG YANG SAMPAI
Imam Al-Ghazali mengisahkan suatu cerita dalam kehidupan Isa
bin Maryam.
Pada suatu hari Isa melihat orang-orang duduk bersedih di
sebuah tembok, dipinggir jalan.
Tanyanya, “Apa gerangan yang merundungmu semua?”
Jawab mereka, “Kami menjadi seperti ini lantaran ketakutan
kami menghadapi neraka.”
Isapun meneruskan perjalanannya, dan melihat sejumlah orang
berkelompok berduka dalam berbagai gaya dipinggir jalan.
Katanya, “Apa gerangan yang merundung kalian?” Mereka
menjawab, “Keinginan akan sorga telah membuat kami semua
begini.”
Isa pun melanjutkan perjalanannya, sampai ia bertemu dengan
kelompok ketiga. Tampaknya orang-orang itu telah menderita
amat sangat, tetapi wajah mereka bersinar bahagia.
Isa bertanya, “Apa gerangan yang telah membuatmu begitu?”
Mereka menjawab, “Semangat Kebenaran. Kami telah melihat
Kenyataan, dan hal itu telah menyebabkan kami melupakan
tujuan-tujuan lain yang sepele.”
Isa berkata, “Orang-orang itu telah sampai. Pada Hari
Perhitungan nanti, merekalah yang akan berada di Sisi
Tuhan.”
Catatan
Kisah Sufi tentang Yesus ini sering mengejutkan mereka yang
percaya bahwa kemajuan rohaniah hanya tergantung pada
pengolahan masalah ganjaran dan siksa.
Para Sufi mengatakan bahwa hanya orang-orang tertentu bisa
mengambil keuntungan dari pelibatan diri pada masalah untung
atau rugi; dan bahwa hal ini mungkin hanya merupakan
sebagian saja dari pengalaman orang-seorang. Mereka yang
telah mempelajari pelbagai cara dan akibat keadaan dan
pencekokan (conditioning and indoctrination) mungkin merasa
sepakat dengan pandangan tersebut.
Tentu saja, kaum agamawan formal, dalam pelbagai
keyakinannya tidak mengakui bahwa pilihan sederhana atas
baik-buruk, ketegangan-kelonggaran, ganjaran-siksa hanyalah
sekedar bagian-bagian suatu sistem lebih besar dari
kesadaran diri.
——————————————————————————————–
PARA PELAYAN DAN RUMAH
Pada zaman dahulu, ada seorang bijaksana dan baik hati, yang
memiliki sebuah rumah besar. Dalam perjalanan hidupnya, ia
sering pergi jauh beberapa waktu lamanya. Kalau ia sedang
pergi, rumah itu diserahkan pemeliharaannya kepada para
pelayan.
Salah satu sifat para pelayan itu adalah pelupa. Sering
mereka lupa, mengapa berada dalam rumah itu; demikianlah
mereka menjalankan kewajibannya dengan mengulang-ngulang
yang sudah dikerjakan. Tidak jarang pula mereka melakukan
pekerjaan dengan cara yang sama sekali berbeda dengan yang
telah diberitahukan kepada mereka. Hal itu terjadi karena
mereka telah melupakan peran mereka di rumah itu.
Konon, ketika pemilik rumah itu sedang bepergian jauh,
muncullah sekelompok pelayan, yang berpikir bahwa merekalah
yang memiliki rumah itu. Karena pengetahuan mereka itu
terbatas pada dunia sehari-hari saja, mereka merasa berada
dalam keadaan yang bertentangan. Misalnya saja, pernah
mereka ingin menjual rumah, tetapi tidak bisa mendapatkan
pembeli, karena memang tidak bisa mengurusnya. Pada waktu
yang lain orang-orang datang bermaksud membeli rumah itu,
dan menanyakan tentang sertifikat tanah, tetapi karena para
pelayan itu sama sekali tidak tahu menahu tentang akta,
dianggapnya para calon pembeli itu main-main saja.
Keadaan yang bertentangan itu juga dibuktikan oleh kenyataan
bahwa persediaan untuk rumah senantiasa muncul “secara
rahasia,” dan perbekalan itu tidak cocok dengan anggapan
bahwa para penghuni bertanggung jawab untuk seluruh rumah.
Petunjuk-petunjuk untuk mengurus rumah itu telah
ditinggalkan dalam kamar si empunya rumah–dengan maksud
agar bisa diingat-ingat lagi. Tetapi setelah satu generasi,
kamar itu menjadi begitu keramat sehingga tak ada seorangpun
yang diperbolehkan memasukinya; dan kamar itu pun dianggap
sebagai rahasia yang tak tertembus. Malahan, beberapa
diantara pelayan itu beranggapan bahwa kamar itu sama sekali
tak ada, meskipun mereka melihat pintunya. Namun, tentang
pintu itu mereka memberikan penjelasan lain; sekedar hiasan
dinding belaka.
Begitulah keadaan para pelayan rumah tersebut, yang tidak
mengambil alih rumah itu, tidak pula tetap setia kepada
petunjuk semula.
Catatan
Konon, kisah ini sering sekali dipergunakan oleh syuhada
Sufi Al-Hallaj, yang dihukum mati pada tahun 922 karena
diduga mengatakan, “Akulah Kebenaran.”
Hallaj meninggalkan sejumlah besar mistik. Meskipun
mengandung bahaya, banyak Sufi dalam waktu seribu tahun
terakhir ini mengakui bahwa Hallaj adalah yang menerima
pencerahan.
——————————————————————————————–
PEDAGANG DAN DARWIS KRISTEN
Karena berada dalam kesukaran, seorang pedagang yang sangat
kaya dari Tabris pergi ke Konia mencari orang yang teramat
bijaksana. Setelah mencoba mendapat nasehat dari para pemuka
agama, hakim, dan lain-lain, ia mendengar tentang Rumi; ia
pun dibawa menghadap Sang Bijaksana itu.
Pedagang itu membawa lima puluh keping uang emas sebagai
persembahan. Ketika dilihatnya Sang Maulana di ruang tamu,
pedagang itu menjadi sangat terharu. Jalaludin Rumi pun
berkata kepadanya,
“Lima puluh keping uang emasmu diterima. Tetapi kau telah
kehilangan dua ratus, itulah alasan kedatanganmu kemari.
Tuhan telah menghukummu, dan menunjukkan sesuatu kepadamu.
Sekarang segalanya akan beres.” Pedagang itu terheran-heran
terhadap yang diketahui Sang Maulana. Rumi melanjutkan.
“Kau mendapat banyak kesulitan karena pada suatu hari nun
jauh di negeri Barat sana, kau melihat seorang darwis
Kristen terbaring di jalan. Dan kau meludahinya. Temui dia
dan minta maaf padanya, dan sampaikan salam kami kepadanya.”
Ketika pedagang itu berdiri ketakutan karena ternyata segala
rahasianya telah diketahui, Sang Maulana itupun berkata,
“Perlukah kami tunjukkan orang itu padamu?” Rumi menyentuh
dinding ruangan itu, dan pedagang itu pun menyaksikan gambar
orang suci itu di sebuah pasar di Eropa. Iapun
terhuyung-huyung pergi meninggalkan Sang Bijaksana, tercengang-
cengang.
Segera saja ia mengadakan perjalanan menemui ulama Kristen
itu, dan ditemuinya orang suci tersebut telungkup di tanah.
Ketika didekatinya, darwis Kristen itu pun berkata, “Guru
kami Jalal telah menghubungi saya.”
Pedagang itu melihat ke arah yang ditunjukkan darwis
tersebut, dan menyaksikan -dalam gambar- Jalaludin sedang
membaca kata-kata semacam ini, “Tak peduli kerikil atau
permata, semua akan mendapat tempat di bukitNya, ada tempat
bagi semuanya …”
Pedagang itu pun pulang kembali, menyampaikan salam darwis
Kristen itu kepada Jalal, dan sejak itu tinggal dalam
masyarakat darwis di Konia.
Catatan
Luasnya pengaruh Jalaludin Rumi terhadap pikiran dan sastra
Barat sekarang ini semakin jelas lewat penelitian akademis.
Tak disangsikan lagi bahwa ia mempunyai banyak pengikut di
Barat, dan kisah-kisahnya muncul dalam cerita-cerita Hans
Anderson, dalam Gesta Romanorum tahun 1324, dan bahkan dalam
karya Shakespeare.
Di Timur terdengar pendapat di kalangan luas bahwa ia
mempunyai hubungan erat dengan kaum mistik dan pemikir
Barat. Versi kisah ini diterjemahkan dari karya Aflaki,
Munakib al-Arifin, kehidupan para darwis Mevlevi awal, yang
selesai ditulis tahun 1353.
——————————————————————————————–
PENYUSUNAN SEJARAH
Konon, ada sebuah kota yang terdiri dari dua jalan yang
sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu,
dan ketika ia mencapai jalan yang satu lagi, orang-orang
melihat matanya berlinang air mata. “Ada yang meninggal di
jalan sebelah itu!” teriak seseorang. Anak-anak yang di
sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.
Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa darwis itu telah
mengupas bawang.
Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan
orang-orang dewasa di kedua jalan itu begitu sedih dan
khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu masih saling
berebut) sehingga mereka takut mengusut sebab-musabah
kehebohan itu sampai tuntas.
Seorang bijaksana berusaha bernalar dengan orang orang di
kedua jalan tersebut, menanyakan mengapa mereka tidak
mengusut sebab-musababnya. Dalam keadaan begitu bingung
untuk memahami yang dikatakannya sendiri, beberapa orang
berucap, “Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana.”
Kabar burung ini pun menyebar bagai kobaran api sehingga
orang-orang di jalan ini beranggapan orang-orang di jalan
yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.
Ketika ketenangan kembali terasa, masing-masing masyarakat
memutuskan untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah,
akhirnya kedua jalan di kota itu sama sekali ditinggalkan
penghuninya.
Kini, beberapa abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan;
tidak berapa jauh darinya terdapat dua buah desa.
Masing-masing desa mempunyai kisahnya sendiri tentang
bagaimana mula-mula rakyatnya mengadakan perpindahan dari
sebuah kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan
diri dari malapetaka tak dikenal, pada masa yang jauh
lampau.
Catatan
Dalam ajaran kejiwaannya, para Sufi menyatakan bahwa
penyampaian pengetahuan secara biasa mudah menyebabkan
kekeliruan karena adanya penambahan atau pengurangan dan
ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu tidak
bisa dipergunakan sebagai pengganti persepsi langsung atas
kenyataan.
Kisah yang menggambarkan subyektivitas otak manusia ini
dikutip dari buku pelajaran Asrar-i-Khilwatia ‘Rahasia Para
Pertapa,’ karangan Syeh Qalandar Syah, anggota Kaum
Suhrawardi, yang meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore,
Pakistan.
——————————————————————————————–
PERUMPAMAAN TENTANG ORANG-ORANG RAKUS
Zaman dahulu ada seorang petani yang suka bekerja keras dan
berbudi baik, yang mempunyai beberapa anak laki-laki yang
malas dan rakus. Ketika sekarat, Si Tua mengatakan kepada
anak-anaknya bahwa mereka akan menemukan harta karun kalau
mau menggali tempat tertentu di kebun. Segera setelah ayah
itu meninggal, anak-anaknya bergegas kekebun, menggalinya
dan satu sudut ke sudut lain, dengan putus asa dan kehendak
yang semakin memuncak setiap kali mereka tidak menemukan
emas di tempat yang disebut ayahnya tadi.
Namun mereka sama sekali tidak menemukan emas. Karena
menyadari bahwa ayah mereka itu tentunya telah
membagi-bagikan emasnya semasa hidupnya, lelaki-lelaki muda
itupun menanggalkan usahanya. Akhirnya, terpikir juga oleh
mereka, karena tanah sudah terlanjur dikerjakan, tentunya
lebih baik ditanami benih. Mereka pun menanam gandum, yang
hasilnya melimpah-limpah. Mereka menjualnya, dan tahun itu
mereka menjadi kaya.
Setelah musim panen, mereka-berpikir lagi tentang harta
terpendam yang mungkin masih luput dari penggalian mereka;
mereka pun menggali lagi ladang mereka, namun hasilnya sama
saja.
Setelah bertahun-tahun lamanya, merekapun menjadi terbiasa
bekerja keras, disamping juga mengenal musim, hal-hal yang
tidak pernah mereka pahami sebelumnya. Kini mereka memahami
cara ayah mereka melatih mereka; mereka pun menjadi
petani-petani yang jujur dan senang. Akhirnya mereka
memiliki kekayaan yang cukup untuk membuat mereka sama
sekali melupakan perkara harta terpendam tersebut.
Itulah juga ajaran tentang pengertian terhadap nasib manusia
dan karma kehidupan. Guru, yang menghadapi ketidaksabaran,
kekacauan, dan ketamakan murid murid, harus mengarahkan
mereka ke suatu kegiatan yang diketahuinya akan bermanfaat
dan menguntungkan mereka tetapi yang kepentingan dan
tujuannya sering tidak terlihat oleh murid-mulid itu karena
kebelumdewasaan mereka.
Catatan
Kisah ini, yang menggarisbawahi pernyataan bahwa seseorang
bisa mengembangkan kemampuan tertentu meskipun ia sebenarnya
berusaha mengembangkan kemampuannya yang lain, dikenal
sangat luas. Hal ini mungkin disebabkan adanya pengantar
yang berbunyi, “Mereka yang mengulangnya akan mendapatkan
lebih dari yang mereka ketahui.”
Kisah ini diterbitkan oleh seorang ulama Fransiskan, Roger
Bacon (yang mengutip filsafat Sufi dan mengajarkannya di
Oxford, dan kemudian dipecat dari universitas itu atas
perintah Paus) dan oleh ahli kimia abad ketujuh belas,
Boerhaave.
Versi ini berasal dari Hasan dari Basra, Sufi yang hidup
hampir seribu dua ratus tahun yang lalu.
——————————————————————————————–
PETI KUNO NURI BEY
Nuri Bey adalah seorang Albania yang suka tepekur dan
disegani, yang beristrikan wanita jauh lebih muda dari
dirinya.
Suatu malam, ketika ia pulang lebih awal dan biasanya
seorang pelayan yang setia menghadapnya dan berkata,
“Istri Tuan berkelakuan mencurigakan.
Ia berada di kamarnya dengan sebuah peti besar, cukup besar
untuk menyimpan orang; peti itu dulu milik kakek Tuan.
Mestinya peti itu hanya berisi beberapa sulaman kuno.
Hamba yakin, kini didalamnya terdapat lebih dari sekedar
sulaman.
Dan hamba, yang sejak dulu menjaganya, kini tidak
diperbolehkan membukanya.”
Nuri pergi kekamar istrinya, dan mendapatkannya duduk murung
disamping peti kayu besar itu.
“Boleh aku melihat isi kotak itu?” tanya suaminya
“Karena kecurigaan pelayan, atau karena Tuan tidak lagi
mempercayai saya?”
“Bukankah lebih mudah membukanya saja, tanpa harus
memasalahkan kaitan maksudnya?”
“Tidak bisa.”
“Apa terkunci?”
“Ya”
“Di mana kuncinya?”
Istrinya menunjukkan kunci itu, “Pecat pelayan itu, nanti
saya berikan kunci itu kepada Tuan.”
Pelayan itu dipecat. Wanita itu menyerahkan kunci dan iapun
berlalu, tentu dengan pikiran kacau.
Nuri Bey berpikir lama. Kemudian dipanggilnya empat orang
tukang kebunnya. Malam itu mereka bersama-sama mengangkat
peti itu jauh ke ujung kebun, lalu menguburnya.
Masalah itu tidak pernah disebut-sebut lagi.
Catatan
Kisah yang menggelitik ini, yang berulang kali dikatakan
memiliki arti dalam di samping nasehatnya yang jelas,
merupakan sebagian dari naskah para darwis pengembara, yang
pengayom sucinya adalah Yusuf dari Andalusia pada abad
ketiga belas.
Di Turki, jumlah mereka itu sangat banyak. Kisah ini, dalam
versi yang lebih dikembangkan, menyusup ke Bahasa Inggris
melalui karya H.G. Dwight, Stambul Nights ‘Malam-malam
Istambul,’ diterbitkan di Amerika Serikat tahun 1916 dan
1922.
——————————————————————————————–
PINTU SORGA
Jaman dahulu adalah seorang lelaki yang baik hatinya. Ia
telah menjalani hidupnya dengan melakukan segala hal yang
memungkinkan orang masuk sorga. Ia memberi harta kepada si
miskin, ia mencintai sesamanya, dan ia mengabdi kepada
mereka. Karena mengingat pentingnya kesabaran, ia senantiasa
bertahan terhadap kesulitan yang besar dan tak diduga-duga,
sering itu semua demi kebahagiaan orang lain. Iapun
mengadakan perjalanan jauh-jauh untuk mendapatkan
pengetahuan. Kerendahhatian dan perilakunya yang pantas
ditiru begitu dikenal sehingga ia dipuji-puji sebagai
seorang yang bijaksana dan warga yang baik; pujian itu
terdengar mulai dari Timur sampai ke Barat, Utara sampai ke
Selatan.
Segala kebaikan itu memang dijalankan –selama ia ingat
melakukannya. Namun ia memiliki kekurangan, yakni kurang
perhatian. Kecenderungan itu memang tidak berat, dan
ditimbang dengan kebaikannya yang lain, hal itu merupakan
cacat kecil saja. Ada beberapa orang miskin yang tak
tertolongnya, sebab selalu saja ia kurang memperhatikan
kebutuhan mereka itu. Kasih sayang dan pengabdian pun
kadang-kadang terlupakan apabila yang dipikirkannya sebagai
kebutuhan pribadi muncul dalam dirinya.
Ia suka sekali tidur. Dan kadang-kadang kalau ia sedang
tidur, kesempatan mendapatkan pengetahuan, atau memahaminya,
atau melaksanakan kerendahhatian, atau menambah jumlah
tindakannya yang terpuji kesempatan semacam itu lenyap
begitu saja, tak akan kembali lagi.
Wataknya yang baik meninggalkan bekas pada dirinya; begitu
juga halnya dengan wataknya yang buruk, yakni kurangnya
perhatian itu.
Dan kemudian ia meninggal. Menyadari dirinya berada di balik
kehidupan ini, dan sedang berjalan menuju pintu-pintu Taman
Berpagar, orang itu istirahat sejenak. Ia mendengarkan
kata-hatinya. Dan ia merasa bahwa kesempatannya memasuki
Gerbang Agung itu cukup besar.
Disaksikannya gerbang itu tertutup; dan kemudian terdengar
suara berkata kepadanya, “Siagalah selalu; sebab gerbang
hanya terbuka sekali dalam seratus tahun.” Ia pun duduk
menunggu, gembira membayangkan apa yang akan terjadi. Namun,
jauh dari kemungkinan untuk menunjukkan kebaikan terhadap
manusia, ternyata ia menyadari bahwa kemampuannya untuk
memperhatikan tidak cukup pada dirinya. Setelah siaga terus
selama waktu yang rasanya sudah seabad kepalanya
terkantuk-kantuk. Segera saja pelupuk matanya tertutup. Dan
pada saat yang sekejap itu, gerbangpun terbuka. Sebelum mata
si lelaki itu terbuka sepenuhnya kembali, gerbang itupun
tertutup: dengan suara menggelegar yang cukup dahsyat untuk
membangunkan orang-orang mati.
Catatan
Kisah ini merupakan bahan pelajaran darwis yang disenangi;
kadang-kadang disebut “Parabel Tentang Kurangnya Perhatian,”
Meskipun terkenal sebagai kisah rakyat, asal-usulnya tak
diketahui. Beberapa orang menganggapnya ciptaan Hadrat Ali,
Kalifah Keempat. Yang lain mengatakan bahwa kisah itu begitu
penting, sehingga tentunya diucapkan sendiri oleh Nabi,
secara rahasia. Jelas kisah ini tidak terdapat dalam Hadits
Nabi.
Bentuk sastra yang kita pilih ini berasal dari seorang
darwis tak dikenal dari abad ketujuh belas, Amil Baba, yang
naskah-naskahnya menekankan bahwa “pengarang sejati adalah
orang yang karyanya tak bernama (anonim), sebab dengan cara
itu tak ada yang berdiri antara pelajar dan yang
dipelajarinya.”
——————————————————————————————–
RAKSASA DAN SUFI
Seorang ahli sufi yang sedang mengadakan perjalanan lewat
sebuah perbukitan yang terpencil tiba-tiba berhadapan dengan
raksasa–setan tinggi besar, yang akan menghancurkannya.
Sufi itu berkata, “Baik, silahkan mencobanya; tetapi aku
bisa mengalahkanmu, sebab aku sangat perkasa dalam pelbagai
hal, lebih dari yang kau bayangkan.” “Omong kosong,” kata
Raksasa. “Kau ahli Sufi, yang terpikat pada masalah rohani.
Kau tak akan bisa mengalahkan aku, sebab aku memiliki
kekuatan badaniah, aku tiga puluh kali lebih besar darimu.”
“Kalau kau menginginkan uji kekuatan,” kata Sufi, “ambil
batu ini dan perahlah air darinya.” Ia memungut sebutir batu
kecil lalu memberikannya kepada Si Setan. Setelah berusaha
sekuat tenaga, Raksasa itu menyerah. “Tak mungkin; tak ada
air dalam batu ini. Coba tunjukkan kalau memang ada airnya.”
Dalam keremang-remangan, Sang Sufi mengambil batu itu, juga
mengambil sebutir telur dari kantungnya, lalu memerah
keduanya, meletakkan tangannya di atas tangan Raksasa. Sang
Raksasa sangat terkesan; sebab orang memang suka terkesan
oleh hal-hal yang tidak dipahami, dan menghargainya
tinggi-tinggi, lebih tinggi dari yang seharusnya mereka
berikan.
“Aku harus memikirkan hal ini,” katanya. “Mari kuajak kau ke
guaku, dan akan kujamu kau malam ini.” Sang Sufi
mengikutinya masuk ke sebuah gua yang sangat besar, penuh
dengan barang-barang milik para pengembara tersesat yang
sudah dibunuh, benar-benar merupakan gua Aladin.
“Berbaringlah disebelahku, dan tidurlah,” kata Si Setan,
“besok aku akan rnemberikan keputusan.” Iapun membaringkan
dirinya dan segera tertidur.
Sang Sufi, yang secara naluri mengetahui adanya bahaya
pengkhianatan, segera merasa harus bangkit dan
menyembunyikan diri ditempat yang agak jauh dari Raksasa.
Itu dilakukannya sesudah mengatur tempat pembaringannya
tadi, agar seolah-olah nampak ia masih tidur disamping Si
Raksasa
Tidak lama setelah ia pindah tempat itu, Si Raksasa pun
bangun. Ia mengambil sebuah batang pohon, menghajar Ahli
Sufi yang dikiranya masih tidur disebelahnya itu dengan
tujuh pukulan yang sangat kuat. Lalu ia berbaring lagi,
langsung tidur. Sang Sufi kembali ketempat tidurnya semula,
berbaring lalu memanggil Raksasa.
“O Raksasa, guamu ini sangat menyenangkan, tetapi aku baru
saja digigit nyamuk tujuh kali. Kau harus menyingkirkan
nyamuk itu.”
Hal ini tentu saja sangat mengejutkan Raksasa sehingga ia
tidak berani lagi menyerang Sang Sufi. Bagaimanapun, kalau
seorang telah dipukul tujuh kali dengan sebuah batang pohon
oleh Raksasa yang menggunakan tenaga sekuat-kuatnya…
Paginya, Si Raksasa memberikan kantong kulit lembu kepada
Sang Sufi, katanya, “Ambil air untuk makan pagi, agar kita
bisa membuat teh.” Sang Sufi tidak mengambil kantong itu
(yang begitu besar sehingga diangkatpun sulit), tetapi pergi
menuju ke sebuah sungai kecil untuk menggali saluran air
kecil ke arah gua. Si Raksasa menjadi haus, “Kenapa tak kau
bawa air?”
“Sabar, Sobat, saya sedang membuat saluran tetap menuju
mulut gua, agar nantinya kau tak usah membawa-bawa kantong
berat itu untuk mengambil air.” Tetapi Raksasa itu terlalu
haus dan tak sabar menanti. Diambilnya kantong kulit itu,
lalu ia menuju ke sungai mengisinya dengan air. Ketika teh
sudah tersedia, ia meminum beberapa galon, dan pikirannya
mulai menjadi agak jernih. “Kalau kau memang kuat –dan kau
memang telah membuktikannya– kenapa tak bisa kau gali
saluran itu secara cepat, tetapi sejengkal demi sejengkal?”
“Sebab,” kata Sang Sufi, “tak ada hal yang sungguh-sungguh
berharga bisa dikerjakan tanpa penggunaan tenaga sesedikit
mungkin. Setiap hal menuntut penggunaan tenaga
sendiri-sendiri; dan saya menggunakan tenaga sesedikit
mungkin untuk menggali saluran. Disamping itu, aku tahu
bahwa kau begitu terbiasa menggunakan kantong kulit itu
sehingga tidak bisa meninggalkan kebiasaanmu.”
Catatan
Kisah ini sering terdengar di warung-warung di Asia Tengah,
dan menyerupai cerita rakyat di Eropa pada abad pertengahan.
Versi ini berasal dari suatu Majmua (kumpulan kisah darwis)
yang aslinya ditulis oleh Hikayati pada abad kesebelas,
menurut kolofon, tetapi dalam bentuknya yang kita baca ini
ia berasal dari abad ke enam belas.
——————————————————————————————–
SANG RAJA DAN ANAK MISKIN
Sendirian saja, orang tidak akan bisa menempuh jalan dalam
perjalanan batinnya. Kau tidak usah mencoba menempuhnya
sendirian, sebab harus ada pembimbingmu. Yang kita sebut
raja adalah pembimbing, dan anak miskin itu Si Pencari.
Dikisahkan, Raja Mahmud dan tentaranya terpisah. Ketika
sedang mengendarai kudanya kencang-kencang, dilihatnya
seorang anak lelaki kecil berada di tepi sungai. Anak itu
telah menebarkan jalanya ke sungai dan tampaknya sangat
murung.
“Anakku,” kata Sang Raja, “kenapa kau murung? Tak pernah
kulihat orang semurung kau itu.”
Anak lelaki itu menjawab, “Hamba salah seorang dari tujuh
bersaudara yang tidak berayah lagi. Kami hidup bersama ibu
kami dalam kemelaratan dan tanpa bantuan siapapun. Hamba
datang kemari setiap hari, memasang jala mencari ikan, agar
ada yang dimakan setiap malam. Kalau hamba tak menangkap
seekor ikanpun pada siang hari, malamnya kami tak punya
apa-apa.”
“Anakku,” kata Sang Raja, “bolehkah aku membantumu?” Anak
itu setuju, dan Rajapun melemparkan jala yang, karena
sentuhan kewibawaannya, menghasilkan seratus ikan.”
Catatan
Oleh orang-orang yang belum luas pengetahuannya, sistem
metafisika sering dikira sebagai menolak nilai “benda
duniawi” atau, sebaliknya, menjanjikan melimpahnya
keuntungan kebendaan.
Namun, dalam Sufisme “hal-hal baik” yang dicapai tidak
selalu kiasan atau sama sekali harafiah. Kisah perumpamaan
ini berasal dari Faridudin Attar, dicantumkannya dalam
Parlemen Burung, dan dipergunakan dalam pengertian baik
harafiah maupun perlambangan. Menurut para darwis; seseorang
bisa mendapatkan kekayaan kebendaan dengan jalan Sufi,
apabila hal itu demi keuntungan Jalan dan juga dirinya
sendiri. Disamping itu, ia pun akan mendapatkan kepuasan
rohani sesuai dengan kemampuannya mempergunakan hal itu
dengan cara yang benar.
——————————————————————————————–
SANTAPAN DARI SORGA
Yunus, putra Adam, pada suatu saat memutuskan untuk tidak
sekedar menyerahkan hidupnya pada nasib, tetapi mencari cara
dan alasan penyediaan kebutuhan manusia.
“Aku manusia,” katanya kepada dirinya sendiri. “Sebagai
manusia aku mendapat sebagian dari kebutuhan dunia, setiap
hari. Bagian itu aku dapat karena usahaku sendiri, didukung
oleh usaha orang lain juga. Dengan menyederhanakan proses
ini, aku akan mencari tahu bagaimana cara makanan mencapai
manusia, dan belajar sesuatu mengenai bagaimana dan
mengapanya. Daripada hidup di dunia kacau-balau ini, dimana
makanan dan kebutuhan lain jelas datang melalui masyarakat,
aku akan menyerahkan diriku kepada Penguasa langsung yang
memerintah segalanya. Pengemis hidup lewat perantara: Lelaki
dan wanita yang pemurah, yang merelakan sebagian hartanya
berdasarkan desakan hati yang tidak sepenuh-penuhnya. Mereka
melakukan itu karena telah dididik berbuat demikian. Aku
tidak mau menerima sumbangan yang tidak langsung itu.”
Selesai berbicara sendiri itu, iapun berjalan ke tempat
terpencil, menyerahkan dirinya kepada bantuan kekuatan gaib
dengan keyakinan yang sama seperti ketika ia menyerahkan
dirinya kepada bantuan yang kasat mata, yakni ketika ia dulu
menjadi guru di sebuah sekolah.
Ia pun jatuh tertidur, yakin bahwa Allah akan mengurus
kebutuhannya sebaik-baiknya, sama seperti burung-burung dan
binatang lain mendapatkan keperluannya di dunia mereka
sendiri.
Waktu subuh, kicau burung membangunkannya, dan anak Adam itu
mula-mula berbaring saja, menanti munculnya makanan.
Meskipun ia mula-mula sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada
kekuatan gaib dan yakin bahwa ia akan mampu memahaminya
kalau kekuatan gaib itu mula bekerja di tempat itu, Yunus
segera menyadari bahwa renungan saja tidak akan banyak
membantunya di medan yang tidak biasa ini.
Ia berbaring di tepi sungai, dan menghabiskan seluruh hari
memperhatikan alam, mengintai ikan di sungai, dan
bersembahyang. Satu demi satu lewatlah orang-orang kaya dan
berkuasa, disertai pengiring yang naik kuda bagus-bagus;
terdengar kelinting pakaian kuda menandakan keyakinan jalan
yang ditempuhnya, dan mendengar salam orang-orang itu karena
mereka melihat ikat kepala yang dikenakannya.
Kelompok-kelompok penziarah beristirahat dan mengunyah kue
kering dan keju, dan air liurnya pun semakin mengucur
membayangkan makanan yang paling sederhana.
“Ini hanya ujian, dan semua akan segera berlalu,” pikir
Yunus, ketika ia selesai mengerjakan sembahyang Isya, dan
memulai tepekurnya menurut cara yang pernah diajarkan
kepadanya oleh seorang darwis yang memiliki pandangan tajam
dan luhur dalam mencapai tujuan.
Malam pun berlalu.
Dan Yunus sedang duduk menatap berkas-berkas sinar matahari
yang patah-patah terpantul di Sungai Tigris yang agung,
ketika lima jam sesudah subuh, pada hari kedua, tampak
olehnya sesuatu menyembul-nyembul di antara alang-alang.
Barang itu ternyata sebuah bungkusan daun yang diikat dengan
serabut kelapa.
Yunus, anak Adam, terjun ke sungai dan mengambil benda aneh
itu.
Beratnya sekitar setengah kilogram. Ketika dibukanya
pengikat itu, bau yang sedap menyerang lubang hidungnya.
Yunus mendapat halwa Bagdad. Halwa makanan itu, dibuat dari
cairan buah badam, air mawar madu, dan kacang – dan pelbagai
bahan lain yang berharga – oleh karenanya sangat digemari
karena rasanya yang enak dan khasiatnya yang tinggi bagi
kesehatan. Putri-putri cantik penghuni harem menggigitgigitnya
karena rasanya yang enak; para prajurit membawanya
ke medan perang karena bisa menimbulkan ketahanan tubuh. Ia
pun bisa dipergunakan untuk mengobati seratus penyakit.
“Keyakinanku terbukti!” kata Yunus. “Dan kini tinggal
mengujinya. Jika ada halwa yang sebesar ini, atau makanan
yang sama, diantarkan kepadaku lewat sungai ini setiap
hari, atau pada waktu-waktu yang teratur, aku akan
mengetahui cara yang ditempuh oleh Sang Pemelihara
untuk memberi makanan padaku. Dan sesudah itu aku bisa
menggunakan akalku untuk mencari sumbernya.”
Tiga hari berturut-turut sesudah itu, pada jam-jam yang
tepat sama, sebungkus halwa terapung menuju ke tempat Yunus.
Ia berkeyakinan kuat bahwa hal itu merupakan penemuan yang
maha penting. Kita sederhanakan saja keadan kita, dan Alam
terus menjalankan tugasnya dengan cara yang kira-kira sama.
Hal itu saja melupakan penemuan yang dirasanya harus
disebarkan ke seluruh dunia. Bukankah sudah dikatakan,
“Kalau kau mengetahui sesuatu, ajarkan itu.” Namun kemudian
disadarinya bahwa ia tidak mengetahui, ia baru mengalami.
Langkah berikutnya yang harus ditempuh adalah mengikuti
jalan halwa itu mudik sampai ia mencapai sumbemya. Tentu ia
nanti tidak hanya mengetahui asal usulnya, tetapi juga cara
bagaimana makanan itu sengaja disediakan untuk dimakannya.
Berhari-hari lamanya Yunus mengikuti alur sungai setiap hari
secara teratur tetapi pada waktu yang semakin lama semakin
awal halwa itu muncul, dan Yunus memakannya.
Akhirnya Yunus melihat bahwa sungai itu bukannya tambah
sempit di udik, tetapi malah melebar. Di tengah-tengah
sungai yang luas itu terdapat sebidang tanah yang amat
subur. Di tanah itu berdiri sebuah istana yang kokoh namun
indah. Dari sanalah, pikirnya, makanan itu berasal.
Ketika ia sedang memikirkan langkah berikutnya Yunus melihat
seorang darwis yang tinggi dan kusut, yang rambutnya kusut
bagaikan pertapa dan pakaiannya bertambal warna-warni,
berdiri dihadapannya.
“Salam, Bapak,” kata Yunus.
“Salam, huuu!” jawab pertapa itu keras. “Apa pula urusanmu
disini?”
“Saya melakukan suatu penyelidikan suci,” anak Adam itu
menjelaskan, “dan saya harus mencapai benteng di seberang
itu untuk menyempurnakannya. Barangkali Bapak mengetahui
akal agar saya bisa kesana?”
“Karena tampaknya kau tak mengetahui apa-apa tentang benda
itu, walaupun aku sendiri menaruh minat padanya,” kata
pertapa itu, “akan kuberi tahu juga kau tentangya.
Pertama-tama, putri seorang raja tinggal di sana, dalam
tawanan dan pembuangan, dijaga oleh sejumlah dayang-dayang
jelita, memang enak, tetapi terbatas juga geraknya. Sang
Putri tidak bisa melarikan diri sebab lelaki yang menangkap
dan memenjarakannya disana -karena Sang Putri menolak
lamarannya- telah mendirikan rintangan-rintangan yang kokoh
tak terlampaui, yang tak tampak oleh mata. Kau harus
mengungguli rintangan-rintangan itu agar bisa memasuki
benteng dan mencapai tujuanmu.”
“Bapak bisa menolong saya?”
“Aku sendiri sedang akan memulai perjalanan khusus demi
pengabdian. Tetapi, kukatakan padamu rahasia sepatah kata,
Wazifa, yang-kalau memang sesuai untuk itu- akan membantumu
mengumpulkan kekuatan gaib para Jin berbudi, makhluk api,
yakni satu-satunya makhluk yang dapat mengungguli kekuatan
sihir yang telah mengunci benteng tersebut. Semoga kau
selamat.” Dan pertapa itupun pergi, setelah mengucapkan
suara-suara aneh berulang-ulang dan bergerak tangkas dan
cekatan, sangat mengagumkan mengingat sosoknya yang patut
dimuliakan itu.
Berhari-hari lamanya Yunus duduk latihan dan memperhatikan
munculnya halwa. Kemudian, pada suatu malam ketika sedang
disaksikannya matahari bersinar-sinar di menara benteng,
tampak olehnya pemandangan yang aneh. Disana, berkilauan
dalam keindahan sorgawi, berdirilah seorang gadis yang
tentunya putri yang dikisahkan itu. Beberapa saat lamanya ia
berdiri menyaksikan matahari, dan kemudian menjatuhkan
sesuatu ke ombak yang mengalun jauh di bawah kakinya -yang
dijatuhkannya itu adalah halwa. Nah, ternyata itulah sumber
langsung karunianya.
“Sumber Makanan Sorga!” teriak Yunus. Kini ia merasa berada
diambang kebenaran. Kapanpun nanti, Pemimpin Jin, yang
dipanggil-panggilnya lewat wazifa darwis, tentu datang, dan
akan dapatlah ia mencapai benteng, putri, dan kebenaran itu.
Tidak berapa lama sesudah pikiran itu melintas di benaknya,
ia merasa dirinya terbawa terbang melewati langit yang
tampaknya seperti kerajaan dongeng, penuh dengan rumah-rumah
yang indah mengagumkan. Ia memasuki salah satu diantaranya,
dan disana berdiri seorang makhluk bagai manusia, yang
sebenarnya bukan manusia: tampaknya masih muda, namun
bijaksana, dan jelas sudah sangat tua. “Hamba,” kata makhluk
itu, “adalah Pemimpin Jin, dan hamba telah membawa Tuan
kemari sesuai dengan permintaan Tuan melalui Nama Agung yang
telah diberikan kepada Tuan oleh Sang Darwis Agung. Apa yang
bisa hamba lakukan untuk Tuan?”
“O Pemimpin Jin yang perkasa,” kata Yunus gemetar, “aku
Pencari Kebenaran,dan jawaban bagi pencarianku itu hanya
bisa aku dapatkan di dalam benteng yang mempesona di dekat
tempatku berdiri ketika kau memanggilku ke mari. Berilah aku
kekuatan untuk memasuki benteng itu dan untuk berbicara
kepada putri yang terkurung di sana.”
“Permohonan dikabulkan!” kata Sang Pemimpin Jin. “Tetapi
ketahuilah, orang mendapatkan jawaban bagi pertanyaannya
sesuai dengan kemampuannya memahami dan persiapannya
sendiri.”
“Kebenaran tetap kebenaran,” kata Yunus, “dan aku akan
mendapatkannya, apa pun juga ujudnya nanti. Berikan anugerah
itu.”
Segera saja Yunus dikirim cepat-cepat dalam keadaan tak
kelihatan (dengan kekuatan sihir Jin), dikawal oleh
sekelompok Jin kecil-kecil sebagai pembantunya, yang oleh
Pemimpinnya diberi tugas mempergunakan kepandaian khususnya
untuk membantu manusia yang sedang mencari kebenaran itu.
Ditangan Yunus ada sebuah batu cermin khusus yang menurut
petunjuk Pemimpinnya diberikan tugas mempergunakan
kepandaian khususnya untuk membantu manusia yang sedang
mencari kebenaran itu. Di tangan Yunus ada sebuah batu
cermin khusus yang menurut petunjuk Pemimpin Jin harus
diarahkan ke benteng untuk melihat rintangan-rintangan yang
tak kelihatan.
Lewat batu itulah anak Adam mengetahui bahwa benteng
tersebut di jaga oleh sederet raksasa, tak tampak tetapi
mengerikan, yang menghantam siapapun yang mendekat. Jin-jin
pembantu yang ahli dalam tugas khusus berhasil menyingkirkan
mereka. Berikutnya Yunus melihat ada semacam jala atau
jaring yang tak kelihatan, yang menutupi seluruh benteng
itu. Itu pun bisa disingkirkan oleh Jin-jin yang memiliki
kccerdikan untuk melaksanakan tugasnya. Akhirnya ada
seonggokan batu besar yang tak kelihatan yang ternyata
memenuhi jarak antara benteng dan tepi sungai. Batu-batu itu
dibongkar semua oleh kelompok Jin tersebut, yang setelah
menjalankan tugas-tugasnya, memberi salam lalu pergi secepat
kilat ke tempat asalnya.
Yunus menyaksikan ada sebuah jembatan yang dengan kekuatan
gaib, muncul dari dasar sungai sehingga ia bisa berjalan
sampai ke benteng itu dengan tetap kaki kering. Seorang
pengawal gerbang langsung membawanya menghadap Sang Putri,
yang kini bahkan tampak lebih elok lagi dari pada dulu
ketika pertama kali tampak.
“Kami sangat berterima kasih pada Tuan karena telah
menghancurkan rintangan yang mengurus benteng ini,” kata
putri itu. “Dan sekarang saya bisa pulang ke ayah dan ingin
sekali memberi hadiah Tuan yang telah bersusah-payah selama
ini. Katakan, sebut apa saja, dan saya akan memberikannya
kepada Tuan.”
“Mutiara tiada tara,” kata Yunus, “hanya ada satu hal yang
saya cari, yakni kebenaran. Karena sudah merupakan kewajiban
siapa pun yang memiliki kebenaran untuk memberikan kepada
siapapun yang bisa memanfaatkannya, saya memohon dengan
sangat, Yang Mulia, agar memberikan kebenaran yang sangat
saya butuhkan.”
“Katakan, dan kebenaran yang bisa saya berikan, akan
sepenuhnya menjadi milik Tuan.”
“Baiklah, Yang Mulia. Bagaimana, dan atas perintah apa
Makanan Sorga, yakni halwa yang setiap harinya Tuan Putri
berikan kepada saya itu, diatur pengirimannya secara
demikian?”
“Yunus, anak Adam,” kata Sang Putri, “halwa, begitu nama
yang kauberikan, yang saya lemparkan setiap hari itu
sebenarnya tak lain sisa-sisa bahan perias yang saya gosok
setelah saya mandi air susu keledai.”
“Akhirnya saya memahami,” kata Yunus, “bahwa pengertian
manusia sesuai dengan syarat kemampuannya untuk mengerti.
Bagi Tuan Putri, itu merupakan sisa bahan perias. Bagi saya,
Makanan Sorga.”
Catatan
Menurut Halqawi (penulis kisah ini), hanya beberapa kisah
Sufi yang bisa dibaca oleh siapapun waktu kapanpun, dan
tetap bisa memberikan perbaikan “kesadaran batin.”
“Hampir semua yang lain,” katanya, “tergantung pada di mana,
kapan, dan bagaimana kisah-kisah itu dipelajari.
Demikianlah, kebanyakan orang akan menemukan hal-hal yang
mereka harapkan: hiburan, teka-teki, ibarat.”
Yunus, anak Adam, adalah orang Suriah, meninggal tahun 1670.
Ia memiliki kekuatan penyembuhan yang luar biasa dan juga
seorang penemu.
——————————————————————————————–
SEMUT DAN CAPUNG
Seekor semut yang pikirannya tersusun dalam rencana teratur,
sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap
menghisap madu dari bunga itu. Capung itu melesat pergi
untuk kemudian datang kembali.
Kali ini Si Semut berkata,
“Kau ini hidup tanpa usaha, dan kau tak punya rencana.
Karena kau tak punya tujuan nyata ataupun kira-kira, apa
pula ciri utama hidupmu dan kapan pula berakhir?”
Kata Si Capung,
“Aku bahagia, dan aku mencari kesenangan, ini jelas ada dan
nyata. Tujuanku adalah tanpa tujuan. Kau boleh merencanakan
sekehendakmu; kau tak bisa meyakinkanku bahwa ada yang lebih
berharga daripada yang kulakukan ini. Kaulaksanakan saja
rencanamu, dan aku rencanaku.”
Semut berpikir,
“Yang tampak padaku ternyata tak tampak olehnya. Ia tahu apa
yang terjadi pada semut. Aku tahu apa yang terjadi pada
capung. Ia laksanakan rencananya, aku laksanakan rencanaku.”
Dan semutpun berlalu, sebab ia telah memberikan teguran
sebaik-baiknya dalam masalah itu.
Beberapa waktu sesudah itu, mereka pun bertemu lagi.
Si Semut menemukan kedai tukang daging, dan ia berdiri di
bawah meja tumpuan daging dengan bijaksana, menunggu saja
apa yang mungkin datang padanya.
Si Capung, yang melihat daging merah dari atas, menukik dan
hinggap diatasnya. Pada saat itu pula, parang tukang daging
berayun dan membelah capung itu menjadi dua.
Separoh tubuhnya jatuh di lantai dekat kaki semut itu.
Sambil menangkap bangkai itu dan mulai menyeretnya ke
sarang, semut itu berkata kepada dirinya sendiri.
“Rencananya tamat sudah, dan rencanaku terus berjalan. Ia
laksanakan rencananya -sudah berakhir, Aku laksanakan
rencanaku -mulai berputar. Kebanggaan tampaknya penting,
nyatanya hanya sementara. Hidup memakan, berakhir dengan
dimakan. Ketika aku katakan hal ini, yang mungkin
dipikirkannya adalah bahwa aku suka merusak kesenangan orang
lain.”
Catatan
Kisah yang hampir serupa ditemukan juga dalam karya Attar,
Kitab Ketuhanan, meskipun penerapannya agak berbeda. Versi
ini dikisahkan oleh seorang darwis Bokhara dekat makam
Al-Syah, yakni Bahaudin Naqsibandi, enam puluh tahun yang
lalu. Sumbernya adalah buku catatan seorang Sufi yang
disimpan dalam Masjid Agung di Jalalabad.
——————————————————————————————–
SI LUMPUH DAN SI BUTA
Pada suatu hari seorang lumpuh pergi ke sebuah warung dan
duduk disamping seseorang yang sudah sejak tadi disana.
“Saya tidak bisa datang ke pesta Sultan,” keluhnya, karena
kakiku yang lumpuh sebelah ini aku tak bisa berjalan cepat.”
Orang disebelahnya itu mengangkat kepalanya. “Saya pun di
undang,” katanya, “tetapi keadaanku lebih buruk dari
Saudara. Saya buta, dan tak bisa melihat jalan, meskipun
saya juga diundang.”
Orang ketiga, yang mendengar percakapan kedua orang itu,
berkata, “Tetapi, kalau saja kalian menyadarinya, kalian
berdua mempunyai sarana untuk mencapai tujuan. Yang buta
bisa berjalan, yang lumpuh didukung di pungung. Kalian bisa
menggunakan kaki si Buta, dan Si Lumpuh untuk menunjukkan
jalan.”
Dengan cara itulah keduanya bisa mencapai tujuan, dan pesta
sudah menanti.
Dalam perjalanan, keduanya sempat berhenti di sebuah warung
lain. Mereka menjelaskan keadaannya kepada dua orang lain
yang duduk bersedih disana. Kedua orang itu, yang seorang
tuli, yang lain bisu. Keduanya juga diundang ke pesta. Yang
bisu mendengar, tetapi tidak bisa menjelaskannya kepada
temannya yang tuli itu. Yang tuli bisa bicara, tetapi tidak
ada yang bisa dikatakannya.
Kedua orang itu tak ada yang bisa datang ke pesta; sebab
kali ini tak ada orang ketiga yang bisa menjelaskan kepada
mereka bahwa ada masalah, apalagi bagaimana cara mereka
memecahkan masalah itu.
Catatan
Dikisahkan bahwa Abdul Kadir yang Agung meninggalkan sebuah
jubah Sufi yang bertambal-tambal untuk diberikan kepada
calon pemakainya yang baru akan lahir enam ratus tahun
setelah kematian Sufi Agung itu.
Pada tahun 1563, Sayid Iskandar Syah, Qadiri, setelah
mendapat kepercayaan ini, menunjuk Syeh Ahmad Faruk dari
Sirhind sebagai pewaris mantel itu.
Guru Naqshibandi ini telah ditahbiskan menjadi anggota enam
belas Kaum Sufi oleh ayahnya, yang telah mencari dan
membangkitkan kembali adat dan pengetahuan Sufisme sepanjang
pengembaraannya yang jauh dan berbahaya.
Orang percaya bahwa Sirhind merupakan tempat yang ditentukan
munculnya Guru Agung, dan turun-temurun orang-orang suci
telah menanti perwujudan itu.
Sebagai akibat dari munculnya Faruqi dan penerimaannya oleh
semua Kaum pada masanya, Kaum Naqshibandi kini meresmikan
pengikut-pengikutnya menjadi empat jalur utama dalam
Sufisme: Chishti, Qadiri, Suhrawardi, dan Naqshibandi.
“Si Lumpuh dan Si Buta” dianggap sebagai ciptaan Syeh Ahmad
Faruk, yang meninggal tahun 1615. Kisah ini baru boleh
dibaca setelah menerima perintah untuk membacanya: atau oleh
mereka yang telah mempelajari Karya Hakim Sanai,
“Orang-orang Buta dan Gajah.”
——————————————————————————————–
SI PEMURAH
Ada seorang kaya dan murah hati yang tinggal di Bokhara.
Karena ia memiliki pangkat tinggi dalam hirarki yang tak
kelihatan, ia dikenal sebagai Pemimpin Dunia. Ia membuat
satu syarat bagi hadiah yang dibagikannya. Setiap hari
diberikannya emas kepada segolongan masyarakat –yang sakit,
yang janda, dan selanjutnya. Namun tak diberikannya apapun
kepada yang membuka mulut.
Tidak semua orang bisa berdiam diri.
Pada suatu hari tibalah giliran para hakim menerima hadiah.
Salah seorang diantara mereka itu tidak bisa menahan diri
mengajukan permohonan sebaik-baiknya.
Ia tidak diberi apapun.
Tetapi itu bukan usaha terakhir. Hari berikutnya, para cacat
diberi hadiah, dan iapun pura-pura patah anggota badannya.
Tetapi Sang Pemimpin mengenalnya, dan ia pun tak mendapatkan
apa-apa.
Hari berikutnya lagi ia kembali menyamar, menutupi wajahnya,
di antara golongan masyarakat yang berbeda. Lagi-lagi ia
dikenali, dan diusir.
Berulang kali ia mencoba, bahkan pernah menyamar sebagai
wanita: namun semuanya tanpa hasil.
Akhirnya hakim ini bertemu dengan seorang pengurus jenazah
dan memintanya untuk membungkus dirinya dengan kain kafan.
“Kalau Sang Pemimpin lewat, mungkin ia nanti menganggapku
mayat. Ia mungkin melemparkan uang untuk ongkos penguburanku
dan kau nanti kuberi bagian.”
Dilaksanakanlah hal itu. Sekeping uang emas dilemparkan oleh
Pemimpin ke bungkusan kafan itu. Hakim itupun menangkapnya,
khawatir kalau pengurus jenazah itu menangkapnya lebih
dahulu. Kemudian berkatalah ia kepada pemurah itu, “Kau
telah mengingkari hadiah untukku. Catat bagaimana aku telah
mendapatkannya!”
“Tak ada yang bisa kau dapatkan dariku,” jawab orang murah
hati itu, “sampai kau mati.” Itulah makna kalimat rahasia
‘orang harus mati sebelum ia mati.’ Hadiah itu datang
setelah ‘kematian,’ dan tidak sebelumnya. Dan bahkan
‘kematian’ inipun tak mungkin ada tanpa pertolongan.”
Catatan
Kisah ini, yang dikutip dari Mathnawi, karya Rumi, sudah
jelas dengan sendirinya.
Para darwis mempergunakannya untuk menekankan bahwa meskipun
anugerah bisa “digaet” oleh Si Cerdik, kemampuan (’emas’)
yang diambil secara baik-baik dari seorang guru seperti Si
Pemurah dari Bokhara itu memiliki kekuatan yang melampaui
ujud luarnya. Itulah nilai yang sukar dipahami mengenai
Berkah.
——————————————————————————————–
SI PENUNGGANG KUDA DAN ULAR
Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “sangkalan” orang
berpengetahuan lebih berharga daripada, “dukungan” si bodoh.
Aku, Salim Abdali, bersaksi bahwa hal itu benar dalam
jangkauan pengalaman yang lebih agung, juga benar dalam
taraf pengalaman yang lebih rendah.
Hal ini terwujud dalam kebiasaan Sang Bijak, yang telah
menurunkan kisah Si Penunggang Kuda dan Ular.
Seorang Penunggang kuda, dari suatu tempat yang aman,
melihat ada seekor ular menyusup ke dalam tenggorokan
seseorang lagi tidur. Penunggang kuda itu menyadari bahwa
apabila orang itu dibiarkannya terus tidur, tentulah racun
ular tersebut akan mematikannya
Oleh karena itu ia mencambuk Si Tidur sampai terbangun.
Karena mendesaknya waktu, ia pun memaksa orang itu pergi
ketempat yang terdapat sejumlah buah apel yang busuk, dan
memaksanya memakan buah-buah busuk itu. Setelah itu, Si
Penunggang Kuda, memaksanya minum air sungai
sebanyak-banyaknya.
Selama itu, orang tersebut selalu berusaha melepaskan diri,
tangisnya, “Apa dosaku, hai kemanusiaan, sehingga aku kau
siksa begini kejam?”
Akhirnya, ketika ia hampir lemas, dan sore hari tiba, lelaki
itu jatuh ke tanah dan memuntahkan buah apel, air, dan ular
tadi. Ketika diketahuinya apa yang telah dimuntahkannya, ia
memahami apa yang telah terjadi, dan mohon maaf kepada Si
Penunggang Kuda.
Ini syaratnya. Dalam membaca kisah ini, jangan mengelirukan
sejarah untuk ibarat, atau ibarat untuk sejarah. Mereka yang
dianugerahi pengetahuan memiliki kewajiban. Mereka yang
tidak berpengetahuan, tidak memiliki apapun di balik apa
yang bisa mereka terka-terka.
Orang yang di tolong itu mengatakan, “Kalau tadi kau
mengatakan hal itu, tentu saya terima perlakuanmu itu dengan
rasa terima kasih.”
Si Penunggang Kuda menjawab, “Kalau tadi kukatakan hal itu,
tentu kau tidak percaya Atau kau menjadi kejang ketakutan.
Atau kau lari pontang-panting. Atau malah tidur lagi.”
Sambil memacu kudanya, orang yang diliputi rahasia itu
segera berlalu.
Catatan
Salim Abdali (1700-1765) menyebabkan para Sufi menerima
caci-maki dari pada cerdik-cendekia yang sebelumnya tak
pernah terjadi karena pernyataannya bahwa seorang Sufi ulung
bisa mengetahui ketidakberesan seseorang, dan mungkin harus
bertindak cepat dan dengan cara yang tampaknya bertentangan
dengan seharusnya dilakukan untuk menolong orang itu, dan
oleh karenanya bisa menimbulkan kemarahan orang-orang yang
sebenarnya tidak mengetahui apa yang ia lakukan
Kisah ini dikutip oleh Abdali dari Rumi. Bahkan kini,
mungkin tidak banyak orang mau menerima pernyataan yang
tersirat dalam kisah ini. Namun, pernyataan semacam itu
telah diterima oleh semua Sufi, dalam bentuk yang
berbeda-beda. Dalam komentarnya terhadap hal ini, guru Sufi
Haidar Gul hanya mengatakan, ada batas tertentu, yang
apabila dilanggar menyebabkan keburukan bagi manusia, yakni
menyembunyikan kebenaran hanya agar tidak menyinggung
perasaan mereka yang dipikirannya tertutup.”
——————————————————————————————–
SI TOLOL DAN UNTA YANG SEDANG MAKAN RUMPUT
Seorang Tolol memperhatikan seekor unta yang sedang makan
rumput. Katanya kepada binatang itu, “Tampangmu mencong.
Kenapa begitu?”
Unta menjawab, “Dalam menilai kesan yang timbul, kau
mengaitkan kesalahan dengan hal yang mewujudkan bentuk.
Hati-hatilah terhadap hal itu! Jangan menganggap wajahku
yang buruk sebagai suatu kesalahan.
Pergi kau menjauh dariku, ambil jalan lintas. Tampangku
mengandung arti tertentu, punya alasan tertentu. Busur
memerlukan yang lurus dan yang bengkok, pegangannya dan
talinya.”
Orang tolol, enyahlah: “Pemahaman keledai sesuai dengan
sifat keledai.”
Catatan
Maulana Majdud, yang dikenal sebagai Hakim Sanai, Sang Bijak
Yang Gilang Gemilang dari Ghaznas menghasilkan banyak
karangan mengenai tak bisa dipercayanya kesan subyektif dan
penilaian bersyarat.
Salah satu petuahnya adalah, “Pada cermin rusak dalam
fikiranmu, bidadari bisa tampak mempunyai wajah setan.”
Kisah perumpamaan itu dipetik dari Taman Kebenaran yang
Berpagar, yang ditulis sekitar tahun 1130.
——————————————————————————————–
SI TOLOL DI KOTA AGUNG
Ada pelbagai macam kebangunan. Hanya satu yang benar.
Manusia tidur, tetapi ia harus bangun dengan cara yang
benar. Berikut ini adalah kisah tentang Si Tolol yang
bangunnya keliru.
Si Tolol ini datang ke sebuah kota besar, dan ia menjadi
bingung oleh banyaknya orang di jalanan. Ia khawatir kalau
nanti ia bangun dari tidurnya ia tak bisa lagi menemukan
dirinya diantara begitu banyak manusia. Karena itu iapun
mengikatkan seutas tali di mata kakinya agar dirinya mudah
dikenali kembali.
Seorang yang suka bercanda, mengetahui apa yang dikerjakan
Si Tolol itu, menanti sampai ia tidur. Di lepaskannya tali
yang melingkar di kaki Si Tolol, lalu diikatkannya ke
kakinya sendiri. Iapun berbaring di lantai dan tidur. Si
Tolol bangun lebih dahulu; dilihatnya tali itu. Mula-mula
dikiranya orang lain itulah dirinya sendiri. Kemudian ia
menyerang orang itu, sambil teriaknya, “Kalau kau itu
diriku, lalu siapa dan mana pula aku?”
Catatan
Kisah ini, yang juga muncul dalam kumpulan lelucon Mulla
Nasruddin yang dikenal luas di Asia Tengah, direkam dalam
karya klasik kebatinan, Salaman dan Absal, oleh pengarang
dan ahli mistik abad ke lima belas, Abdul Rahman Jami. Ia
datang dari Oxus dan meninggal di Herat setelah mengukuhkan
dirinya sebagai salah seorang tokoh sastra terkemuka dalam
bahasa Parsi.
Jami menimbulkan banyak ketidaksenangan di kalangan ahli
agama karena keterusterangannya, terutama pengakuannya bahwa
ia tidak mempunyai guru kecuali ayahnya sendiri.
——————————————————————————————–
SI TOLOL, SI BIJAK, DAN KENDI
Seorang tolol merupakan panggilan bagi orang biasa, yang
senantiasa salah menafsirkan apa yang terjadi atasnya, apa
yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan orang lain. Ia
melakukan semuanya itu begitu meyakinkan sehingga bagi
dirinya dan orang-orang semacamnya segi kehidupan dan
pemikiran yang luas tampak masuk akal dan benar.
Seorang tolol semacam itu pada suatu hari disuruh membawa
kendi menemui seorang bijaksana untuk meminta anggur. Di
tengah jalan, karena kecerobohannya Si Tolol itu
membenturkan kendinya ke batu, dan pecah.
Ketika ia sampai dirumah orang bijaksana itu, ia memberikan
pegangan kendinya, katanya, “Tuan Anu menyuruh saya
memberikan kendi ini kepada Tuan, tetapi di tengah jalan ia
dicuri batu.”
Karena terhibur dan ingin mendengar seluruh ceritanya, orang
bijaksana itu bertanya.
“Karena kendi itu telah di curi, kenapa kau berikan kepadaku
pegangannya?”
“Saya tidak setolol yang disangka orang,” kata Si Tolol itu,
“oleh karena saya membawa pegangan kendi ini untuk
membuktikan kebenaran ceritaku.”
Catatan
Suatu pokok pembicaraan yang banyak beredar di kalangan guru
darwis adalah bahwa kemanusiaan umumnya tidak bisa
membedakan suatu kecenderungan tersembunyi di balik
peristiwa-peristiwa, yang mestinya memungkinkannya
memanfaatkannya sepenuh-penuhnya. Mereka yang mampu melihat
kecenderungan itu disebut Sang Bijaksana, sementara orang
kebanyakan disebut “tidur,” atau di panggil Si Tolol.
Kisah ini, yang dalam Bahasa Inggris dikutip oleh Kolonel
Wilberforce Clarke (Diwan-i-Hafiz) merupakan salah satu
contoh khas. Dengan menyerap ajaran itu lewat tokoh dan
kisah yang dilebih-lebihkan, orang-orang tertentu mampu
benar-benar “memekakan” diri untuk menangkap kecenderungan
tersembunyi itu.
Kutipan ini berasal dari kumpulan kisah Sufi yang dikerjakan
oleh Pir-i-do-Sara, “Yang mengenakan Jubah Bertambal” yang
meninggal tahun 1790 dan dimakamkan di Mazar-i-Sharif,
Turkestan.
——————————————————————————————–
SIFAT MURID
Diceritakan bahwa Ibrahim Khawas, ketika ia masih muda,
ingin mengikuti seorang guru. Iapun mencari seorang bijak,
dan mohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya.
Sang Bijak berkata. “Kau belum lagi siap.”
Karena anak muda itu bersikeras juga, guru itu berkata,
“Baiklah, aku akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah
ke Mekkah. Kau ikut.”
Murid itu teramat gembira.
“Karena kita mengadakan perjalanan berdua, salah seorang
harus menjadi pemimpin,” kata Sang Guru “Kau pilih jadi apa?”
“Saya ikut saja, Bapak yang memimpin,” kata Ibrahim.
“Tentu aku akan memimpin, asal kau tahu bagaimana menjadi
pengikut,” kata Sang Guru.
Perjalananpun dimulai. Sementara mereka beristirahat pada
suatu malam di padang pasir Hejaz, hujan pun turun. Sang
guru bangkit dan memegangi kain penutup, melindungi muridnya
dari kebasahan.
“Tetapi seharusnya sayalah yang melakukan itu bagi Bapak,”
kata Ibrahim.
“Aku perintahkan agar kau memperbolehkan aku melindungimu,”
kata Sang Bijak.
Siang harinya, anak muda itu berkata, “Nah ini hari baru.
Sekarang perkenankan saya menjadi pemimpin, dan Bapak
mengikut saya.” Sang gurupun setuju.
“Saya akan mengumpulkan kayu, untuk membuat api,” kata
pemuda itu.
“Kau tak boleh melakukan itu; aku yang akan melakukannya,”
kata Sang Bijak.
“Saya memerintahkan agar Bapak duduk Saja sementara saya
mengumpulkan kayu!” kata pemuda itu.
“Kau tak boleh melakukan hal itu,” kata orang bijaksana itu;
“sebab hal itu tidak sesuai dengan syarat menjadi murid;
pengikut tidak boleh membiarkan dirinya dilayani oleh
pemimpinnya.”
Demikianlah, setiap kali Sang Guru menunjukkan kepada murid
apa yang sebenarnya makna menjadi murid dengan
contoh-contoh.
Mereka berpisah di gerbang Kota Suci. Waktu kemudian bertemu
dengan orang bijaksana itu, Si pemuda tidak berani menatap
matanya.
“Yang kaupelajari itu,” kata Sang Bijak, “adalah sesuatu
yang berkaitan dengan sedikit menjadi murid.”
Catatan
Ibrahim Khawas (‘Si Penganyam Palem’) memberi batasan jalan
Sufi sebagai, “Biarkan saja apa yang dilakukan untukmu
dikerjakan orang untukmu. Kerjakan sendiri apa yang harus
kau kerjakan bagi dirimu sendiri.”
Kisah ini menggaris-bawahi dengan cara dramatik, perbedaan
antara apa yang dipikirkan calon pengikut tentang bagaimana
seharusnya hubunganya dengan gurunya, dan bagaimana hubungan
tersebut dalam kenyataannya.
Khawas adalah salah seorang di antara guru-guru agung zaman
awal, dan perjalanan ini dikutip oleh Hujwiri dalam
Pengungkapan Yang Terselubung, ikhtisar tertua yang masih
ada tentang Sufisme dalam Bahasa Persia.
SULTAN YANG MENJADI ORANG BUANGAN
Seorang Sultan Mesir konon mengumpulkan orang orang
terpelajar, dan-seperti biasanya–timbullah pertengkaran.
Pokok masalahnya adalah Mikraj Nabi Muhammad. Dikatakan,
pada kesempatan tersebut Nabi diambil dari tempat tidurnya,
dibawa ke langit. Selama waktu itu ia menyaksikan sorga
neraka, berbicara dengan Tuhan sembilan puluh ribu kali,
mengalami pelbagai kejadian lain–dan dikembalikan ke
kamarnya sementara tempat tidurnya masih hangat. Kendi air
yang terguling karena tersentuh Nabi waktu berangkat, airnya
masih belum habis ketika Nabi turun kembali.
Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu benar, sebab ukuran
waktu disini dan di sana berbeda. Namun Sultan menganggapnya
tidak masuk akal.
Para ulama cendikia itu semuanya mengatakan bahwa segala hal
bisa saja terjadi karena kehendak Tuhan. Hal itu tidak
memuaskan raja.
Berita perbedaan pendapat itu akhirnya didengar oleh Sufi
Syeh Shahabuddin, yang segera saja menghadap raja. Sultan
menunjukkan kerendahan hati terhadap sang guru yang berkata,
“Saya bermaksud segera saja mengadakan pembuktian.
Ketahuilah bahwa kedua tafsiran itu keliru, dan bahwa ada
faktor-faktor yang bisa ditunjukkan, yang menjelaskan cerita
itu tanpa harus mendasarkan pada perkiraan ngawur atau akal,
yang dangkal dan terbatas.”
Di ruang pertemuan itu terdapat empat jendela. Sang Syeh
memerintahkan agar yang sebuah dibuka. Sultan melihat keluar
melalui jendela itu. Di pegunungan nunjauh disana terlihat
olehnya sejumlah besar perajurit menyerang, bagaikan semut
banyaknya, menuju ke istana. Sang Sultan sangat ketakutan.
“Lupakan saja, tak ada apa-apa,” kata Syeh itu.
Ia menutup jendela itu lalu membukanya kembali. Kali ini tak
ada seorang perajurit pun yang tampak.
Ketika ia membuka jendela yang lain, kota yang di luar
tampak terbakar. Sultan berteriak ketakutan.
“Jangan bingung, Sultan; tak ada apa-apa,” kata Syeh itu.
Ketika pintu itu ditutup lalu dibuka kembali, tak ada api
sama sekali.
Ketika jendela ketiga dibuka, terlihat banjir besar
mendekati istana. Kemudian ternyata lagi bahwa banjir itu
tak ada.
Jendela keempat dibuka, dan yang tampak bukan padang pasir
seperti biasanya, tetapi sebuah taman firdaus. Dan setelah
jendela tertutup lagi, lalu dibuka, pemandangan itu tak ada.
Kemudian Syeh meminta seember air, dan meminta Sultan
memasukkan kepalanya dalam air sesaat saja Segera setelah
Sultan melakukan itu, ia merasa berada di sebuah pantai yang
sepi, di tempat yang sama sekali tak dikenalnya, karena
kekuatan gaib Syeh itu. Sultan marah sekali dan ingin
membalas dendam.
Segera saja Sultan bertemu dengan beberapa orang penebang
kayu yang menanyakan siapa dirinya. Karena sulit menjelaskan
siapa dia sebenarnya, Sultan mengatakan bahwa ia terdampar
di pantai itu karena kapalnya pecah. Mereka memberinya
pakaian, dan iapun berjalan ke sebuah kota. Di kota itu ada
seorang tukang besi yang melihatnya gelandangan, dan
bertanya siapa dia sebenarnya. Sultan menjawab bahwa ia
seorang pedagang yang terdampar, hidupnya tergantung pada
kebaikan hati penebang kayu, dan tanpa mata pencarian.
Orang itu kemudian menjelaskan tentang kebiasaan kota
tersebut. Semua pendatang baru boleh meminang wanita yang
pertama ditemuinya, meninggalkan tempat mandi, dan dengan
syarat si wanita itu harus menerimanya. Sultan itupun lalu
pergi ke tempat mandi umum, dan di lihatnya seorang gadis
cantik keluar dari tempat itu. Ia bertanya apa gadis itu
sudah kawin: ternyata sudah. Jadi ia harus menanyakan yang
berikutnya, yang wajahnya sangat buruk. Dan yang berikutnya
lagi. Yang ke empat sungguh-sungguh molek. Katanya ia belum
kawin, tetapi ditolaknya Sultan karena tubuh dan bajunya
yang tak karuan.
Tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri didepan Sultan katanya,
“Aku disuruh ke mari menjemput seorang yang kusut di sini.
Ayo, ikut aku.”
Sultanpun mengikuti pelayan itu, dan dibawa kesebuah rumah
yang sangat indah. Ia pun duduk di salah satu ruangannya
yang megah berjam-jam lamanya. Akhirnya empat wanita cantik
dan berpakaian indah-indah masuk, mengantarkan wanita kelima
yang lebih cantik lagi. Sultan mengenal wanita itu sebagai
wanita terakhir yang ditemuinya di rumah mandi umum tadi.
Wanita itu memberinya selamat datang dan mengatakan bahwa ia
telah bergegas pulang untuk menyiapkan kedatangannya, dan
bahwa penolakannya tadi itu sebenarnya sekedar merupakan
basa-basi saja, yang dilakukan oleh setiap wanita apabila
berada di jalan.
Kemudian menyusul makanan yang lezat. Jubah yang sangat
indah disiapkan untuk Sultan, dan musik yang merdu pun
diperdengarkan.
Sultan tinggal selama tujuh tahun bersama istrinya itu:
sampai ia menghambur-hamburkan habis warisan istrinya.
Kemudian wanita itu mengatakan bahwa kini Sultanlah yang
harus menanggung hidup keduanya bersama ketujuh anaknya.
Ingat pada sahabatnya yang pertama di kota itu, Sultan pun
kembali menemui tukang besi untuk meminta nasehat. Karena
Sultan tidak memiliki kemampuan apapun untuk bekerja, ia
disarankan pergi ke pasar menjadi kuli.
Dalam sehari, meskipun ia telah mengangkat beban yang sangat
berat, ia hanya bisa mendapatkan sepersepuluh dari uang yang
dibutuhkannya untuk menghidupi keluarganya.
Hari berikutnya Sultan pergi ke pantai, dan ia sampai di
tempat pertama kali dulu ia muncul di sini, tujuh tahun yang
lalu. Ia pun memutuskan untuk sembahyang, dan mengambil air
wudhu: dan pada saat itu pula mendadak ia berada kembali di
istananya, bersama-sama dengan Syeh itu dan segenap pegawai
keratonnya.
“Tujuh tahun dalam pengasingan, hai orang jahat” teriak
Sultan. “Tujuh tahun, menghidupi keluarga, dan harus menjadi
kuli: Apakah kau tidak takut kepada Tuhan, Sang Maha Kuasa,
hingga berani melakukan hal itu terhadapku?”
“Tetapi kejadian itu hanya sesaat,” kata guru Sufi tersebut,
“yakin waktu Baginda mencelupkan wajah ke air itu.”
Para pegawai keraton membenarkan hal itu.
Sultan sama sekali tidak bisa mempercayai sepatah katapun.
Ia segera saja memerintahkan memenggal kepala Syeh itu.
Karena merasa bahwa hal itu akan terjadi? Syeh pun
menunjukkan kemampuannya dalam Ilmu Gaib (Ilm el-Ghaibat).
Iapun segera lenyap dari istana tiba-tiba berada di
Damaskus, yang jaraknya berhari-hari dari istana itu.
Dari kota itu ia menulis surat kepada Sultan:
“Tujuh tahun berlalu bagi tuan, seperti yang telah tuan
rasakan sendiri; padahal hanya sesaat saja wajah tuan
tercelup di air. Hal tersebut terjadi karena adanya
kekuatan-kekuatan tertentu, yang hanya dimaksudkan untuk
membuktikan apa yang bisa terjadi. Bukankah menurut kisah
itu, tempat tidur Nabi masih hangat dan kendi air itu belum
habis isinya?
Yang penting bukanlah terjadi atau tidaknya peristiwa itu.
Segalanya mungkin terjadi. Namun, yang penting adalah makna
kenyataan itu. Dalam hal tuan, tak ada makna sama sekali.
Dalam hal Nabi, peristiwa itu mengandung makna.”
Catatan
Dinyatakan, setiap ayat dalam Quran memiliki tujuh arti,
masing-masing sesuai untuk keadaan pcmbaca atau
pendengarnya.
Kisah ini, seperti macam lain yang banyak beredar di
kalangan Sufi, menekankan nasehat Muhammad, “Berbicaralah
kepada setiap orang sesuai dengan taraf pemahamannya.”
Metode Sufi, menurut Ibrahim Khawas, adalah: “Tunjukkan hal
yang tak diketahui sesuai dengan cara-cara yang ‘diketahui’
khalayak.”
Versi ini berasal dari naskah bernama Hu-Nama “Buku Hu”
dalam kumpulan Nawab Sardhana, bertahun 1596.
——————————————————————————————–
SUMPAH
Pada suatu hari, seorang yang kalut pikirannya bersumpah,
jika semua kesulitannya terpecahkan ia akan menjual rumahnya
dan semua hasil penjualan itu akan diberikannya kepada kaum
miskin.
Akhirnya sampai juga saatnya, ia harus menunaikan sumpahnya.
Tetapi ia tidak ingin memberikan uang yang didapatnya. Iapun
mencari akal.
Ia menjual rumahnya seharga seperak saja. Namun penjualan
itu harus sekalian dengan kucingnya. Harga kucing itu
sepuluh ribu uang perak.
Rumah itu pun terjual. Dan bekas pemilik rumah itupun
memberikan uangnya yang seperak kepada kaum miskin, yang
sepuluh ribu dimasukkan ke kantong sendiri.
Banyak orang berpikiran demikian itu. Mereka berketetapan
menuruti pelajaran; namun, mereka menafsirkan sedemikian
rupa agar menguntungkan dirinya Sampai mereka mampu
mengalahkan kecenderungan itu dengan latihan khusus, mereka
sebenarnya tidak bisa menarik pelajaran apa-apa.
Catatan
Akal-akalan yang digambarkan dalam kisah ini, menurut
pengisahnya (Syeh Nasir Al-Din Syah) mungkin memang
disengaja –atau mungkin menggambarkan pikiran tertutup yang
secara tak sadar menampilkan akal-akalan semacam itu.
Sang Syeh, yang juga dikenal sebagai “Pelita Delhi,”
meninggal tahun 1846. Makamnya di Delhi, India. Versi ini,
yang dianggap ciptaannya, berasal dari tradisi lisan kaum
Chishti. Kisah ini dipergunakan untuk memperkenalkan teknik
kejiwaan yang dimaksudkan untuk menenangkan jiwa, agar tidak
bisa melaksanakan tindak akal-akalan yang menipu diri
sendiri.
——————————————————————————————–
TIGA CINCIN BERLIAN
Pada zaman dahulu, ada seorang bijaksana dan sangat kaya
yang mepunyai seorang anak laki-laki. Katanya kepada
anaknya, “Ini cincin permata. Simpanlah sebagai bukti bahwa
kau ahli warisku, dan nanti wariskan kepada anak-cucumu.
Harganya mahal, bentuknya indah, dan memiliki kemampuan pula
untuk membuka pintu kekayaan.”
Beberapa tahun kemudian, Si Kaya itu mempunyai anak
laki-laki lagi. Ketika anak itu sudah dewasa, ayahnya
memberi pula cincin serupa, disertai nasehat yang sama.
Hal yang sama juga terjadi atas anak laki-lakinya yang
ketiga, yang terakhir.
Ketika Si Tua sudah meninggal dan anak-anaknya menjadi
dewasa, masing-masing mengatakan keunggulannya sehubungan
dengan cincin yang dimilikinya. Tak ada seorangpun yang bisa
memastikan cincin mana yang paling berharga.
Masing-masing anak mempunyai pengikut, yang menyatakan
cincinnya memiliki nilai dan keindahan lebih unggul.
Namun kenyataan yang mengherankan adalah bahwa pintu
kekayaan itu selama ini masih juga tertutup bagi pemilik
cincin itu, juga bagi pengikutnya terdekat. Mereka tetap
saja meributkan hak yang lebih tinggi, nilai, dan keindahan
sehubungan dengan cincin tersebut.
Hanya beberapa orang saja yang mencari pintu kekayaan Si Tua
yang sudah meninggal itu. Tetapi cincin-cincin itu memiliki
kekuatan magis juga. Meskipun disebut kunci, cincin-cincin
itu tidak bisa langsung dipergunakan membuka pintu kekayaan.
Sudah cukup kalau diperhatikan saja, salah satu nilai dan
keindahannya tanpa rasa persaingan atau rasa sayang yang
berlebihan. Kalau hal itu dilakukan, orang yang melihatnya
akan bisa mengatakan tempat kekayaan itu, dan dapat
membukanya dengan hanya menunjukkan lingkaran cincin itu.
Harta itu pun memiliki nilai lain: tak ada habisnya.
Sementara itu para pembela ketiga cincin itu
mengulang-ngulang kisah leluhurnya tentang manfaatnya,
masing-masing dengan cara yang agak berbeda.
Kelompok pertama beranggapan bahwa mereka telah menemukan
harta itu.
Yang kedua berpikir bahwa kisah itu hanya ibarat saja.
Yang ketiga menafsirkannya sebagai kemungkinan membuka pintu
kearah masa depan yang dibayangkan sangat jauh dan terpisah.
Catatan
Kisah ini, yang oleh beberapa pihak dianggap mengacu ke tiga
agama: Judaisme, Kristen, dan Islam, muncul dalam
bentuk-bentuk yang berbeda dalam Gesta Romarzorum dan karya
Boccacio Decameron.
Versi di atas itu konon merupakan jawaban salah seorang guru
Sufi Suhrahwardi, ketika ditanya mengenai kebaikan pelbagai
agama. Beberapa penanggap beranggapan ada unsur-unsur dalam
kisah ini yang menjadi sumber karya Swift, Tale of a Tub
‘Kisah sebuah Bak mandi.’
——————————————————————————————–
TIGA EKOR IKAN
Konon, di sebuah kolam tinggal tiga ekor ikan: Si Pandai, Si
Agak Pandai, dan Si Bodoh. Kehidupan mereka berlangsung
biasa saja seperti ikan-ikan lain, sampai pada suatu hari
ketika kolam itu kedatangan-seorang manusia
Ia membawa jala; dan Si Pandai melihatnya dari dalam air.
Sadar akan pengalamannya, cerita-cerita yang pernah
didengarnya, dan kecerdikannya, Si Pandai memutuskan untuk
melakukan sesuatu.
“Hampir tak ada tempat berlindung di kolam ini,” pikirnya
“Jadi saya akan pura-pura mati saja.”
Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan meloncat ke luar
kolam, jatuh tepat di kaki nelayan itu. Tentu saja si
Nelayan terkejut. Karena ikan tersebut menahan nafas,
nelayan itu mengiranya mati: ia pun melemparkan ikan itu
kembali ke kolam. Ikan itu kemudian meluncur tenang dan
bersembunyi di sebuah ceruk kecil dekat pinggir kolam.
Ikan yang kedua, Si Agak-Pandai, tidak begitu memahami apa
yang telah terjadi. Ia pun berenang mendekati Si Pandai dan
menanyakan hal itu.” Gampang saja,” kata Si Pandai, “saya
pura-pura mati, dan nelayan itu melemparkanku kembali ke
kolam.”
Si Agak-Pandai itu pun segera melompat ke darat, jatuh dekat
kaki nelayan. “Aneh,” pikir nelayan itu, “ikan-ikan ini
berloncatan ke luar air.” Namun, Si Agak Pandai ini ternyata
lupa menahan nafas, dan iapun dimasukkan ke kepis.
Ia kembali mengamat-amati kolam, dan karena agak heran
memikirkan ikan-ikan yang berloncatan ke darat, ia pun lupa
menutup kepisnya. Menyadari hal ini, Si Agak-Pandai berusaha
melepaskan diri ke luar dari kepis, membalik-balikkan
badannya, dan masuk kembali ke kolam. Ia mencari-cari ikan
pertama, ikut bersembunyi di dekatnya –nafasnya
terengah-engah.
Dan ikan ke tiga, Si Bodoh, tidak bisa mengambil pelajaran
dari segala itu, meskipun ia telah mengetahui pengalaman
kedua ikan sebelumnya. Si Pandai dan Si Agak-Pandai memberi
penjelasan secara terperinci, menekankan pentingnya menahan
nafas agar di
“Terimakasih: saya sudah mengerti,” kata Si Bodoh. Sehabis
mengucapkan itu, ia pun melemparkan dirinya ke darat, jatuh
tepat dekat kaki nelayan. Sang nelayan langsung memasukkan
ikan ketiga itu kedalam kepisnya tanpa memperhatikan apakah
ikan itu bernafas atau tidak. Berulang kali dilemparkannya
jala ke kolam, namun kedua ikan yang pertama tadi dengan
aman bersembunyi dalam sebuah ceruk. Dan kepisnya sekarang
tertutup rapat.
Akhirnya nelayan itu menghentikan usahanya. Ia membuka
kepisnya, menyadari bahwa ternyata ikan yang di dalamnya
tidak bernafas. Ikan itupun dibawanya pulang untuk makanan
kucing.
Catatan
Konon, kisah ini disampaikan oleh Husein, cucu Muhammad,
kepada Khajagan (‘Para Pemimpin’) yang pada abad ke empat
belas mengubah namanya menjadi Kaum Naqsahbandi.
Kadang-kadang peristiwanya terjadi di sebuah ‘dunia’ yang
dikenal sebagai Karatas, di Negeri Batu Hitam.
Versi ini dari Abdul ‘Yang berubah’ Afifi. Ia mendengarnya
dari Syeh Muhammad Asghar, yang meninggal tahun 1813.
Makamnya di Delhi.
——————————————————————————————–
TIGA KEBENARAN
Para Sufi dikenal sebagai Pencari Kebenaran, yang berupa
kenyataan obyektif. Konon, seorang tiran yang bodoh dan
dengki memutuskan untuk memiliki kebenaran ini. Namanya
Rudarigh, seorang raja besar di Marsia, Spanyol. Ia
menetapkan bahwa kebenaran akan bisa didengarnya kalau Umar
al-Alawi dari Tarragona dipaksa untuk mengatakannya.
Umar pun di tangkap dan dibawa ke Istana. Kata Rudarigh,
“Aku telah memutuskan agar kebenaran yang kau ketahui harus
kaukatakan kepadaku dalam kata-kata yang bisa kumengerti,
kalau tidak nyawamu harus kau pertaruhkan.”
Umar menjawab, “Apakah Tuan mengetahui kebiasaan dalam
istana perkasa ini, apabila seorang yang ditahan
mengungkapkan kebenaran sebagai jawaban atas suatu
pertanyaan dan kebenaran itu tidak membuktikannya salah,
maka ia akan dibebaskan kembali?”
“Memang demikian,” kata Raja.
“Saya minta semua yang hadir di sini menjadi saksi,” kata
Umar, “dan saya tidak hanya akan mengungkapkan satu
kebenaran, tetapi tiga.”
“Kami juga harus yakin,” kata Rudarigh, “bahwa yang kau
sebut kebenaran itu memang benar-benar kebenaran. Harus ada
bukti-bukti yang menyertainya.”
“Bagi Raja seperti baginda,” kata Umar, “yang pantas
menerima tidak hanya satu kebenaran tetapi sekaligus tiga,
kami juga akan bisa memberikan kebenaran yang nyata dengan
sendirinya.”
Rudarigh sangat puas menerima pujian itu.
“Kebenaran pertama,” kata Si Sufi, “adalah, sayalah yang
bernama Umar Si Sufi dari Tarragona. Yang kedua adalah
bahwa Baginda akan melepaskan saya jika saya telah
mengungkapkan kebenaran. Yang ketiga, Baginda ingin
mendengarkan kebenaran yang bisa Baginda pahami.”
Karena kesan yang ditimbulkan oleh kata-kata tersebut,
Rajapun terpaksa membebaskan kembali darwis itu.
Catatan
Cerita ini menampilkan legenda lisan darwis yang biasanya
disusun oleh Al-Mutanabbi. Cerita-cerita ini, menurut juru
ceritanya, tidak boleh dituliskan selama 1.000 tahun.
Al-Mutanabbi, salah seorang penyair Arab terbesar, meninggal
seribu tahun yang lalu.
Salah satu ciri kumpulan cerita ini adalah bahwa selalu
mengalami perubahan, disebabkan oleh penceritaan kembali
terus-menerus sesuai dengan “perubahan zaman.”
——————————————————————————————–
TIGA NASEHAT
Pada suatu hari ada seseorang menangkap burung. Burung itu
berkata kepadanya, “Aku tak berguna bagimu sebagai tawanan.
Lepaskan saja aku, nanti kuberi kau tiga nasehat.”
Si Burung berjanji akan memberikan nasehat pertama ketika
masih berada dalam genggaman orang itu, yang kedua akan
diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon, dan yang
ketiga ia sudah mencapai puncak bukit.
Orang itu setuju, dan meminta nasehat pertama.
Kata burung itu,
“Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun kau menghargainya
seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal.”
Orang itupun melepaskannya, dan burung itu segera melompat
ke dahan.
Di sampaikannya nasehat yang kedua,
“Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal,
apabila tak ada bukti.”
Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia
berkata,
“O manusia malang! diriku terdapat dua permata besar, kalau
saja tadi kau membunuhku, kau akan memperolehnya!”
Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya, namun
katanya, “Setidaknya, katakan padaku nasehat yang ketiga
itu!”
Si Burung menjawab,
“Alangkah tololnya kau, meminta nasehat ketiga sedangkan
yang kedua pun belum kaurenungkan sama sekali! Sudah
kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan, dan
jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini
kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak
masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku toh tidak cukup
besar untuk bisa menyimpan dua permata besar!
Kau tolol. Oleh karenanya kau harus tetap berada dalam
keterbatasan yang disediakan bagi manusia.”
Catatan
Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting
untuk “mengakalkan” pikiran siswa Sufi, menyiapkannya
menghadapi pengalaman yang tidak bisa dicapai dengan
cara-cara biasa.
Di samping penggunaannya sehari-hari di kalangan Sufi, kisah
ini kedapatan juga dalam klasik Rumi, Mathnawi. Kisah ini
ditonjolkan dalam Kitab Ketuhanan karya Attar, salah seorang
guru Rumi. Kedua pujangga itu hidup pada abad ke tiga belas.
——————————————————————————————–
TIGA ORANG DARWIS
Konon, ada tiga orang darwis. Mereka bernama Yak, Do, dan
Se. Mereka masing-masing berasal dari Utara, Barat, dan
Selatan. Mereka memiliki suatu hal yang sama: berusaha
mencari Kebenaran Dalam, oleh karenanya mereka mencari
Jalan.
Yang pertama, Yak-Baba, duduk dan merenung sampai kepalanya
pening. Yang kedua, Do-Aghas tegak dengan kepala di bawah
sehingga kakinya kaku. Yang ketiga, Se-Kalandar, membaca
buku-buku sampai hidungnya mengeluarkan darah.
Akhirnya mereka memutuskan untuk berusaha bersama-sama.
Mereka mengundurkan diri ke tempat sunyi dan melakukan
latihan bersama, mengharap agar ketiga kekuatan yang
digabung akan cukup kuat untuk mendatangkan Kebenaran, yang
mereka sebut Kebenaran Dalam.
Empat puluh hari empat puluh malam lamanya mereka bertahan
menderita. Akhirnya, dalam pusaran asap putih muncullah
kepala seorang lelaki yang sangat tua di hadapan mereka;
tampaknya ia muncul dari tanah. “Apakah kau Kidir yang gaib
itu, pemandu manusia?” tanya darwis pertama. “Bukan, ia
Kutub, Tiang Semesta,” sahut yang kedua. “Aku yakin, itu
pasti tak lain salah seorang dari para Abdal. Orang-orang
Yang Terubah,” kata yang ketiga.
“Salah semua” teriak bayang-bayang itu keras-keras, “tetapi
aku adalah apapun yang kau inginkan tentangku. Dan kini
kalian menginginkan satu hal, yakni yang kausebut Kebenaran
Dalam?”
“Ya, O Guru,” sahut mereka serentak.
“Pernahkah kalian mendengar peribahasa, ada banyak Jalan
sebanyak hati manusia?” tanya kepala itu. Bagaimanapun,
inilah jalanmu:
“Darwis pertama akan mengembara melalui Negeri Orang Tolol;
Darwis Kedua harus menemukan Cermin Ajaib; Darwis Ketiga
harus meminta pertolongan Jin Pusaran Air.” Setelah berkata
demikian, kepala itupun menghilang.
Mereka bertiga membicarakan masalah itu, tidak hanya karena
mereka memerlukan penjelasan lebih lanjut sebelum berangkat,
tetapi juga karena meskipun mereka semua telah mengadakan
latihan berbagai cara, masing-masing percaya bahwa hanya ada
satu cara yakni caranya sendiri, tentu saja. Dan kini,
masing-masing tidak yakin benar bahwa caranya sendiri itu
cukup berguna, meskipun boleh dikatakan telah mampu
mendatangkan bayang-bayang yang baru saja mereka saksikan
tadi, yang namanya sama sekali tidak mereka ketahui.
Yak-Babalah pertama-tama meninggalkan tempat samadinya;
biasanya ia akan bertanya kepada orang yang ditemuinya,
apakah ada orang bijaksana yang tinggal dekat-dekat daerah
itu; tetapi kini ia bertanya apakah mereka mengetahui Negeri
Orang Tolol. Akhirnya setelah berbulan-bulan lamanya, ada
juga yang tahu, dan berangkatlah ia menuju kesana. Segera
setelah ia memasuki negeri itu, dilihatnya seorang wanita
menggendong pintu. “Wanita,” tanyanya, “mengapa kaugendong
pintu itu?”
“Sebab, pagi tadi, sebelum berangkat kerja, suamiku
berpesan: “Istriku, dirumah kita ini tersimpan harta
berharga. Jangan kauperbolehkan orang melewati pintu ini.”
Karena aku pergi, kubawa pintu ini agar tidak ada yang
melewatinya. Kini perkenankanlah saya melewatimu.”
“Apakah saya boleh menjelaskan sesuatu agar kau tahu bahwa
sebenarnya tak perlu kau bawa kemana-mana pintu itu?” tanya
Darwis Yak-Baba. “Tidak usah,” kata wanita itu.
“Satu-satunya yang bisa menolong adalah apabila Saudara bisa
menjelaskan cara memperingan bobot pintu ini.”
“Wah, itu saya tidak tahu,” kata Darwis. Dan mereka pun
berpisah.
Beberapa langkah kemudian ia menjumpai sekelompok orang.
Mereka semua gemetar ketakutan di depan sebuah semangka
besar yang tumbuh di ladang. “Kami belum pernah melihat
raksasa itu sebelumnya,” mereka menjelaskan kepada Darwis
itu, “dan tentunya ia akan tumbuh semakin besar dan membunuh
kami semua. Tetapi kami takut menyentuhnya.”
“Bolehkah saya mengatakan sesuatu kepada kalian tentang
itu?” tanyanya kepada mereka.
“Jangan goblok!” jawab mereka. “Bunuhlah ia, dan kau akan
diberi hadiah, tetapi kami tidak mau tahu apapun
tentangnya.” Maka Darwis itupun mengeluarkan pisau,
mendekati semangka itu, memotong seiris, dan kemudian mulai
memakannya
Di tengah-tengah jerit ketakutan yang hiruk-pikuk
orang-orang itu memberinya uang. Ketika ia pergi, mereka
berkata, “Kami mohon jangan kembali kemari, Tuan Pembunuh
Raksasa. Jangan datang kemari dan memakan kami seperti
tadi!”
Demikianlah, sedikit demi sedikit ia mengerti bahwa di
Negeri Orang Tolol, agar bisa bertahan hidup, orang harus
bisa berfikir dan berbicara seperti orang tolol. Setelah
beberapa tahun lamanya, ia mencoba mengubah beberapa orang
tolol menjadi waras, dan sebagai hadiahnya pada suatu hari
Darwis itu mendapatkan Pengetahuan Dalam. Meskipun ia
menjadi orang suci di Negeri Orang Tolol, rakyat
mengingatnya hanya sebagai Orang yang Membelah Raksasa Hijau
dan Meminum Darahnya. Mereka mencoba melakukan hal yang
sama, untuk mendapatkan Pengetahuan Dalam –dan mereka tak
pernah mendapatkannya.
Sementara itu, Do-Agha, Darwis Kedua, memulai perjalanannya
mencari Pengetahuan Dalam. Kali ini ia tidak menanyakan
tentang orang-orang suci atau cara-cara latihan yang baru,
tetapi tentang Cermin Ajaib, Jawaban-jawaban yang
menyesatkan sering didengarnya, namun akhirnya ia mengetahui
tempat Cermin itu. Cermin itu tergantung di sumur pada
seutas tali yang selembut rambut, dan sebenarnya hanya
sebagian saja, sebab Cermin itu terbuat dari pikiran-pikiran
manusia, dan tidak ada cukup pikiran untuk bisa membuatnya
sebuah Cermin yang utuh.
Setelah itu ia berhasil menipu raksasa yang menjaganya,
Do-Agha menatap Cermin itu dan meminta Pengetahuan Dalam.
Sekejap saja ia sudah memilikinya. Iapun tinggal di sebuah
tempat dan mengajar dengan penuh kebahagiaan beberapa tahun
lamanya. Tetapi pengikut-pengikutnya tidak bisa mencapai
taraf pemusatan pikiran yang diperlukan untuk memperbaharui
cermin itu secara teratur, cermin itu pun lenyaplah. Namun,
sampai hari ini masih ada orang-orang yang menatap cermin,
membayangkan bahwa Cermin Ajaib Do-Agha, Sang Darwis.
Sedangkan Darwis Ketiga, Se-Kalandar, ia pergi ke mana-mana
mencari Jin Pusaran Air. Jin itu dikenal dengan pelbagai
nama, namun Se-Kalandar tidak mengetahuinya; dan
bertahun-tahun lamanya ia bersilang jalan dengan Jin itu,
senantiasa gagal menemuinya karena Jin itu disana tidak
dikenal sebagai Jin dan mungkin tidak dikait-kaitkan dengan
pusaran air.
Akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, ia pergi kesebuah
dusun dan bertanya, “O Saudara-saudara! apakah ada diantara
kalian yang pernah mendengar tentang Jin Pusaran Air?”
“Saya tak pernah mendengar tentang Jin itu,” kata seseorang,
“tetapi desa ini disebut Pusaran Air.”
Darwis merubuhkan tubuhnya ke tanah dan berteriak, “Aku tak
akan meninggalkan tempat ini sampai Jin Pusaran Air muncul
di hadapanku!”
Dan Jin itu, yang sedang lewat dekat tempat itu, memutar
langkahnya dan berkata, “Kami tidak menyukai orang asing di
desa kami, darwis. Karena itu aku datang padamu. Nah, apa
yang kau cari?”
Aku mencari Pengetahuan Dalam, dan aku diberi tahu bahwa
dalam keadaan tertentu kau bisa mengatakan padaku bagaimana
mendapatkannya.
“Tentu, aku bisa,” kata Si Jin. “Kau telah mengalami banyak
hal. Yang harus kau lakukan tinggal mengucapkan ungkapan
ini, menyanyikan lagu itu, melakukan tindakan itu. Kau pun
nanti akan mendapatkan Pengetahuan Dalam.”
Darwis itu mengucapkan terima kasih kepada Jin, lalu memulai
latihannya. Bulan-bulan berlalu, kemudian bertahun-tahun,
sampai akhirnya ia berhasil melakukan pengabdian dan
ketaatannya secara benar. Orang-orang datang dan
menyaksikannya dan kemudian meniru-nirunya, karena
semangatnya, dan karena ia dikenal sebagai orang yang taat
dan saleh.
Akhirnya Darwis itu mencapai Pengetahuan Dalam; jauh
meninggalkan pengikut-pengikutnya yang setia, yang
meneruskan cara-caranya. Tentu saja mereka itu tidak pernah
mencapai Pengetahuan Dalam, sebab mereka memulai pada akhir
telaah Sang Darwis.
Setelah itu, apabila ada pengikut-pengikut ketiga Darwis
itu bertemu, salah seorang berkata, “Aku memiliki kaca
Tataplah, dan kau akan mencapai Pengetahuan Dalam.”
Yang lain menjawab, “Korbankan semangka,ia akan menolongmu
seperti yang pernah terjadi atas Yak-Baba.”
Yang ketiga menyela, “Tak mungkin: Satu-satunya cara adalah
tabah dalam mempelajari dan menyusun latihan tertentu,
sembahyang, dan bekerja keras.”
Ketika pada kenyataannya ketiga Darwis itu berhasil mencapai
Pengetahuan Dalam, mereka bertiga mengetahui bahwa tak mampu
menolong mereka yang telah mereka tinggalkan di belakang:
seperti ketika seorang terbawa oleh air pasang dan melihat
di darat ada seorang diburu singa, dan tidak bisa
menolongnya.
Catatan
Petualangan-petualangan orang-orang ini nama-nama mereka
berarti “satu,” “dua” dan “tiga” –kadang-kadang diartikan
sebagai ejekan terhadap agama yang lazim.
Kisah ini merupakan ringkasan sebuah kisah ajaran yang
terkenal, “Apa yang Terjadi atas Mereka Bertiga.” Kisah ini
dianggap sebagai ciptaan guru Sufi, Murad Shami, kepala Kaum
Muradi, yang meninggal tahun 1719. Para darwis yang
menceritakannya menyatakan bahwa kisah ini mempunyai pesan
dalam yang jauh lebih penting dalam hal-hal praktis,
daripada arti yang diluarnya saja.
TOKO LAMPU
Pada suatu malam gelap, dua orang bertemu di sebuah jalan
yang sunyi.
“Saya mencari sebuah toko dekat-dekat sini, namanya Toko
Lampu,” kata yang pertama.
“Saya kebetulan orang sini, dan bisa menunjukkannya pada
saudara,” kata orang kedua.
“Saya harus bisa menemukannya sendiri. Saya sudah diberi
petunjuk, dan sudah saya catat pula,” kata yang pertama.
“Jadi, kenapa Saudara mengatakan hal itu kepada saya?”
“Iseng saja.”
“Jadi Saudara ingin ditemani, tidak ditunjukkan arahnya?”
“Ya, itulah maksud saya.”
“Tetapi lebih mudah bagi Saudara kalau ditunjukkan arahnya
oleh penduduk sini, sudah sejauh ini: apalagi mulai dari
sini jalannya sulit.”
“Saya percaya pada apa yang sudah dikatakan kepada saya,
yang telah membawaku sejauh ini. Saya tidak yakin bisa
mempercayai sesuatu atau seseorang lain lagi.”
“Jadi, meskipun Saudara mempercayai pemberi keterangan yang
pertama, Saudara tidak diajar cara memilih orang yang bisa
Saudara percayai?”
“Begitulah.”
“Saudara punya tujuan lain?”
“Tidak, hanya mencari Toko Lampu itu.”
“Boleh saya bertanya: kenapa Saudara mencari toko lampu
itu?”
“Sebab saya diberi tahu para ahli bahwa di tempat itulah
saya bisa mendapatkan alat-alat yang memungkinkan orang
membaca dalam gelap.”
“Saudara benar, tetapi ada syarat, dan juga sedikit
keterangan. Saya ragu apakah mereka sudah memberitahukan hal
itu kepada Saudara.”
“Apa itu?”
“Syarat untuk bisa membaca dengan lampu adalah bahwa Saudara
harus sudah bisa membaca.”
“Saudara tidak bisa membuktikannya!”
“Tentu saja dalam malam gelap semacam ini saya tidak bisa
membuktikannya.”
“Lalu, ,sedikit keterangan, itu apa?”
“Sedikit keterangan itu adalah bahwa Toko Lampu itu masih di
sana, tetapi lampu-lampunya sudah dipindah ke tempat lain.”
“Saya tidak tahu ‘lampu’ itu apa, tetapi tampaknya Toko
Lampu adalah tempat menyimpan alat tersebut. Oleh karena
itulah ia disebut Toko Lampu.”
“Tetapi ‘Toko Lampu’ bisa mempunyai dua makna yang berbeda,
yang bertentangan. Yang pertama, ‘Tempat di mana lampu-lampu
bisa didapatkan;’ yang ke dua, “Tempat di mana lampu-lampu
pernah bisa didapatkan, tetapi kini tidak ada lagi.”
“Saudara tidak bisa membuktikannya!”
“Saudara akan dianggap tolol oleh kebanyakan orang.”
“Tetapi ada banyak orang yang akan menganggap Saudara tolol.
Mungkin Saudara bukan Si Tolol. Saudara mungkin mempunyai
maksud tersembunyi, menyuruh saya pergi ke tempat teman
Saudara yang berjualan lampu. Atau mungkin Saudara tidak
menginginkan saya mempunyai lampu sama sekali.”
“Saya ini lebih buruk dari yang Saudara bayangkan. Saya
tidak menjanjikan Saudara ‘Toko Lampu’ dan membiarkan
Saudara menganggap bahwa masalah Saudara akan terpecahkan di
sana, tetapi saya pertama-tama ingin mengetahui apakah
Saudara ini bisa membaca. Saya tentu bisa mengetahuinya
seandainya Saudara berada dekat sebuah toko semacam itu.
Atau apakah lampu bisa didapatkan bagi Saudara dengan cara
lain.”
Kedua orang itu saling memandang, dengan sedih, sejenak.
Lalu masing-masing melanjutkan perjalanannya.
Catatan
Syeh-Per Syatari, penulis kisah ini, meninggal di India pada
tahun 1632. Makamnya di Meerut.
Ia dipercaya bisa melakukan hubungan telepati dengan
guru-guru “masa lampau, kini, dan masa depan,” dan memberi
mereka kemudahan untuk menjelaskan pesan mereka lewat
kepandaiannya menyusun kisah-kisah berdasarkan kehidupan
sehari-hari.
——————————————————————————————–
ULAR DAN MERAK
Pada suatu hari, seorang muda bernama Adi, Si Mesin Hitung
-karena ia belajar matematika- memutuskan untuk meninggalkan
Bhokara guna mencari ilmu yang lebih tinggi. Gurunya
menasehatkan agar ia berjalan ke arah selatan, dan katanya,
“Carilah makna Merak dan Ular.” tentu saja anjuran itu
membuat Adi berpikir keras.
Ia mengembarai Khorasan dan akhirnya sampai di Irak. Di
negeri Irak, ia benar-benar menemukan tempat yang terdapat
seekor merak dan seekor ular. Adipun mengajak bicara mereka.
Kedua binatang itu berkata, “Kami sedang memperbincangkan
keunggulan kami masing-masing.”
“Nah, justru itu yang ingin kuketahui,” kata Adi. “Teruskan
berbincang-bincang.”
“Rasanya, akulah yang lebih berguna,” kata Merak. “Aku
melambangkan cita-cita, perjalanan ke langit keindahan
sorgawi, dan karenanya juga pengetahuan adiluhung. Adalah
tugasku untuk mengingatkan manusia, dengan cara menirukan,
tentang segi-segi dirinya yang tak dilihatnya.”
“Sebaliknya, aku,” kata Ular, sambil mendesis pelahan,
“melambangkan hal itu juga. Seperti manusia, aku terikat
pada bumi Kenyataan itu menyebabkan manusia menyadari
dirinya. Juga seperti manusia, aku lentur, bisa
berkelok-kelok menyusur tanah. Manusia sering melupakan
kenyataan itu. Menurut kisah , akulah penjaga harta yang
tersembunyi di bumi.”
“Tetapi kau menjijikkan,” teriak Merak. “Kau licik, licin,
dan berbahaya.”
“Kau menyebut sifat-sifat kemanusiaanku,” kata Ular,
“sedangkan aku lebih suka menunjukkan sifat-sifatku yang
lain, yang sudah kusebut-sebut tadi. Sekarang, lihat dirimu
sendiri: kau sombong, kegemukan, dan suaramu serak. Kakimu
terlalu besar, bulu-bulumu berlebihan panjangnya.”
Sampai disini Adi menyela, “Hanya ketidak-cocokanmulah yang
telah menyebabkan aku mengetahui bahwa tak ada di antara
kalian yang benar. Namun kita jelas-jelas melihat, apabila
kalian sama-sama meninggalkan keasyikan diri sendiri, secara
bersama-sama kalian bisa memberi pesan bagi kemanusiaan.”
Dan, sementara dua pihak yang bertengkar itu
mendengarkannya, Adi menjelaskan peran mereka bagi
kemanusiaan: “Manusia melata di tanah bagai Si Ular. Ia bisa
melayang tinggi bagai Burung. Namun, karena tamak seperti
Ular, ia tetap mempertahankan kepentingan diri sendiri
ketika berusaha terbang, dan mereka menjadi seperti Merak;
terlampau sombong. Dalam diri Merak, kita melihat
kemungkinan manusia, namun yang tidak tercapai dengan
semestinya. Pada kilauan Ular, kita menyaksikan kemungkinan
keindahan. Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu
menjadi terlalu berbunga-bunga.”
Dan kemudian terdengar Suara dari dalam berbicara kepada
Adi, “Itu belum lengkap. Kedua makhluk itu diberkahi
kehidupan, yang merupakan faktor penentu. Mereka bertengkar
karena masing-masing telah merasa aman dalam jenis
kehidupannya sendiri, beranggapan bahwa hal itu merupakan
perwujudan suatu kedudukan yang sebenarnya. Namun, yang
seekor menjaga harta dan tidak bisa mempergunakannya. Yang
lain mencerminkan keindahan, harta juga, namun tidak bisa
mengubah dirinya sendiri menjadi keindahan. Di Samping
ketidakmampuan keduanya untuk mengambil keuntungan dari
kesempatan yang terbuka bagi mereka keduanya pun
melambangkan kesempatan itu –tentu bagi mereka yang bisa
melihat dan mendengarnya.”
Catatan
Pemujaan Ular dan Merak di Irak didasarkan pada ajaran
seorang Syeh Sufi, Adi, putra Musafir, pada abad kedua
belas. Pemujaan itu dianggap suatu misteri oleh kebanyakan
orientalis.
Kisah ini, yang tercatat dalam legenda, menunjukkan
bagaimana guru-guru darwis membentuk “mazhab-mazhab”-nya
berdasarkan pelbagai lambang, yang dipilih untuk memberi
contoh ajaran-ajarannya.
Dalam bahasa Arab, “Merak” melambangkan juga “perhiasan;”
sedangkan “Ular,” memiliki bentuk huruf yang sama dengan
“organisme” dan “kehidupan.” Oleh karena itu perlambangan
Pemujaan Malaikat Merak yang tersembunyi -Kaum Yezidisadalah
suatu cara untuk menunjukkan “Bagian Dalam dan Luar,”
rumus rumus Sufi tradisional.
Pemujaan itu masih ada di Timur Tengah, dan memiliki
penganut (tak ada di antara mereka itu yang orang Irak) di
Inggris dan Amerika Serikat.
——————————————————————————————–

%d blogger menyukai ini: